Kamis, 23 Nopember 2017  

Berita Pajak

Shortfall Realisasi Penerimaan Pajak di Tangan Ken Dwijugiasteadi

Harian Kontan, Kamis 9 November 2017

   Cari Berita Pajak    Kirim Komentar    Beritahu Teman    Cetak A A A  

Shortfall Realisasi Penerimaan Pajak di Tangan Ken Dwijugiasteadi JAKARTA. Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (Kemkeu) Ken Dwijugiasteadi merayakan ulang tahun ke-60 pada Rabu (8/11) kemarin. Dengan pertambahan usia ini, maka pria yang menjabat sebagai Dirjen Pajak sejak akhir 2015 ini telah memasuki usia pensiun.

Namun, dirinya dipastikan bakal menjabat hingga akhir bulan November ini.

Sekretaris Jenderal Kemkeu Hadiyanto mengatakan, Ken akan menjalankan tugasnya hingga 30 November 2017 mendatang. “Jadi, per 1 Desember beliau tidak menjabat lagi dan itu sudah pasti. Kami pastikan tidak ada Plt (pelaksana tugas) atau Plh (pelaksana harian),” kata Hadiyanto, Selasa (7/11) lalu.

Hal tersebut diakui sendiri oleh Ken. Ia mengaku masih akan bertugas mengamankan penerimaan pajak hingga akhir bulan ini.

Seperti diketahui, Ken terpilih sebagai Dirjen Pajak melalui mekanisme lelang jabatan. Beberapa pesaing Ken saat itu yang sekarang masih aktif adalah Poltak Maruli John Liberty Hutagaol yang saat ini menjabat Direktur Perpajakan Internasional dan Catur Rini Widosari, Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Pajak Banten.

Namun di tengah perubahan kepemimpinan otoritas pajak tersebut, realisasi penerimaan pajak masih minim. Itulah sebabnya diperlukan pemimpin baru yang memiliki terobosan untuk mengamankan penerimaan pajak di bulan-bulan terakhir tahun ini.

Sebab, menurut data yang diperoleh KONTAN Selasa (7/11), realisasi penerimaan pajak baru sebesar Rp 858,05 triliun. Jumlah itu hanya 66,8% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2017 yang Rp 1.283,57 triliun.

Direktur Eksekutif Centre for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo mengatakan, walau persentase masih rendah, namun capaian tahun ini melebihi proyeksi yang dibuatnya. Dia menyebutkan, pada Oktober 2017, ia memproyeksikan penerimaan Rp 82,32 triliun. Nilai proyeksi itu lebih rendah dari realisasi penerimaan pajak Oktober 2017 yang tercatat Rp 88 triliun. “Kalau trennya seperti itu seharusnya sudah di jalur yang benar,” ujarnya ke KONTAN, Rabu (8/11).

Melihat tren itu, Yustinus memproyeksikan, penerimaan pajak hingga akhir tahun 2017 akan berakhir di angka 91,8% dengan skenario optimis. Itu bisa terjadi bila penerimaan November 2017 dan Desember 2017 stabil, dengan realisasi masing-masing sebesar Rp 119,50 triliun dan Rp 200,44 triliun.

Dengan proyeksi itu, realisasi penerimaan pajak 2017 akan mencapai Rp 1.177 triliun, naik Rp 44 triliun dibandingkan pencapaian 2016 yang sebesar Rp 1.133 triliun.

Dengan asumsi itu, maka penerimaan pajak tahun ini tumbuh sekitar 3,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Bila itu yang terealisasi, maka menurut Yustinus, itu lumayan sebagai prestasi dari Ken menuju masa pensiunnya.

Agar tercapai, maka dalam situasi perekonomian yang masih stagnan, kebijakan pemungutan pajak harus hati-hati dan menghindari ekstraksi berlebih. “Tantangannya dua bulan yang tersisa ini adalah perlunya pengawasan soal Pajak Pertambahan Nilai (PPN)," kata Yustinus,

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) bidang Hubungan Internasional dan Investasi Shinta Widjaja Kamdani menilai, Ken sudah bekerja baik. Hal itu ditandai dengan Ditjen Pajak yang semakin terbuka dengan masukan dari kalangan pengusaha.

Namun ada beberapa kebijakan dan pernyataan Ken yang menimbulkan keresahan, seperti menyalahkan pengusaha bila ada pegawai Ditjen Pajak melakukan korupsi. “Padahal banyak sekali pengusaha yang rajin bayar pajak,” katanya. Menurutnya Ken meninggalkan kesan, yakni program amnesti pajak yang berjalan baik.

© PajakOnline.com | ‹ Dibaca 39 kali ›

Pencarian Berita Pajak
Kata Kunci :