Senin, 17 Juni 2019  

Berita Pajak

Setoran Pajak Emas Tergerus Kepatuhan

Harian Kontan, Senin 26 November 2018

   Cari Berita Pajak    Kirim Komentar    Beritahu Teman    Cetak A A A  

Setoran Pajak Emas Tergerus Kepatuhan JAKARTA. Tren peningkatan harga komoditas emas yang terjadi sejak awal tahun, memberikan angin segar atas penerimaan pajak. Moncernya perdagangan emas sepanjang tahun ini, seharusnya juga turut mengerek penerimaan. Harga emas milik pelat merah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) saja, naik dari awal tahun sebesar Rp 600.000 per gram menjadi Rp 660.

000 per gram jika merujuk harga logam mulia (LM) Pulogadung Jakarta, Jumat (23/11). Sementara penjualan penjualan emas batangan periode Januari-Oktober 2018 telah mencapai 24 ton.
Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan (Kemkeu) Hestu Yoga mengatakan, tren kenaikan harga emas berpotensi mengerek penerimaan pajak. "Kenaikan harga komoditas, termasuk emas, lazimnya pengaruhnya positif terhadap penerimaan pajak," katadia, Jumat (23/11). 
Selama ini, penjualan emas batangan emas Antam dikenai pajak penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 0,45% dari harga jual bagi konsumen yang memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Bagi konsumen yang tak memiliki NPWP, tarif PPh Pasal 22 dipatok sebesar 0,9%. 
Dari hitungan KONTAN, dengan tarif PPh Pasal 22 terendah 0,45% untuk penjualan emas kepada konsumen yang memiliki NPWP saja dan dikalikan dengan harga emas saat ini dan total penjualan emas batangan Antam sebanyak 24 juta gram sepanjang tahun ini, maka, penerimaan pajak yang masuk seharusnya mencapai Rp 71,28 miliar. Ini belum termasuk potensi dari PPN yang dikenakan pada penjualan emas perhiasan sebesar 2% dari harga jual masing-masing toko emas. 
Sayang, Ditjen Pajak belum bisa membagi data secara terperinci.Namun, melihat realisasi APBN 2018 per Oktober, penerimaan pajak dari sektor usaha perdagangan, yang mencakup perdagangan emas dan perhiasan, tercatat mencapai Rp 186,98 triliun. "Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, penerimaan pajak dari perdagangan tumbuh 28,3%," ujar Yon Arsal, Direktur Potensi, Kepatuhan dan Penerimaan Pajak Ditjen Pajak Kemkeu. 
Sayangnya, masih banyak pengusaha emas, khususnya perhiasan emas yang belum memahami kewajiban perpajakan terkait usahanya. Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Soreang misalnya, mencatat kontribusi pajak penjualan emas, baik logam mulia maupun perhiasan, hanya sebesar Rp 44 miliar atau 3% dari total realisasi Rp 1,48 miliar sepanjang 2017 lalu. Sepanjang tahun ini, kontribusi tersebut justru tambah turun menjadi 1, 43%. 
Sementara, Kanwil DJP Jawa Barat I mencatat penerimaan pajak hingga 22 November lalu sebesar Rp 23,94 triliun atau tumbuh 12,98% secara tahunan. 
Namun, jumlah pembayaran pajak dari penjualan emas bahkan lebih rendah dari yang dicatat KPP Soreang. "Kepatuhan wajib pajak yang bergerak di bidang penjualan emas logam mulia maupun perhiasan masing rendah," kata Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Ditjen Pajak Jawa Barat I Yoyok Satiotmo.

© PajakOnline.com | ‹ Dibaca 69 kali ›

Pencarian Berita Pajak
Kata Kunci :