Jumat, 14 Desember 2018  

Berita Pajak

Tarif Pajak Dipangkas Agar Ekonomi Tumbuh di Atas 6%

Harian Kontan, Senin 3 Desember 2018

   Cari Berita Pajak    Kirim Komentar    Beritahu Teman    Cetak A A A  

Tarif Pajak Dipangkas Agar Ekonomi Tumbuh di Atas 6% JAKARTA. Sebagai penantang petahana, pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno serius menyusun strategi dan agenda ekonomi jika menang pada pilpres 2019. Salah satu janji besarnya, pasangan capres nomor urut 2 itu bertekad mengembalikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di posisi minimal

6% per tahun. 
Anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Drajad Wibowo mengatakan, skenario yang akan dijalankan oleh pasangan ini jika terpilih menjadi presiden adalah menggulirkan program ekonomi. Program ekonomi itu ditargetkan bisa memacu ekonomi tumbuh 6%-6,5% pada tahun 2020. 
Tak sekadar mengejar pertumbuhan, Drajat mengklaim era Prabowo-Sandiaga akan mengandalkan mesin ekonomi lokal. "Kami ingin ekonomi tumbuh dengan mengandalkan potensi dalam negeri seperti meningkatkan produksi pangan dan pertanian lokal," ujar dia kepada KONTAN, beberapa waktu lalu.
Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini menilai, pertumbuhan ekonomi tinggi bisa diraih dengan cara memperbaiki iklim bisnis dan investasi. Strateginya, pertama, mereformasi sistem perpajakan dengan memangkas tarif pajak di Indonesia. 
Pasangan capres ini berjanji tarif pajak dalam negeri mampu kompetitif dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Dengan rencana pemangkasan ini, dia berharap dapat mengerek pertumbuhan ekonomi. 
Selain itu, dengan memangkas tarif pajak, daya beli masyarakat bisa naik lantaran uang berputar di masyarakat lebih besar. Dus, konsumsi rumah tangga juga bisa beranjak dari kondisi saat ini yang stagnan di angka 5%. 
Kedua, dari sisi infrastruktur. Dradjad menyatakan, Prabowo akan memperbaiki pembiayaan infrastruktur yang saat ini justru kontraproduktif terhadap geliat ekonomi lokal. Pasalnya, dana lebih banyak masuk ke padat modal, sehingga tak menetes ke konsumsi rumah tangga. 
Ketiga, dari sisi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS), Drajad menyatakan, selama ini rupiah cenderung fluktuatif karena kebijakan pemerintah tak cukup kuat meyakinkan pelaku pasar. Makanya, skenario yang dirancang Prabowo adalah secara intensif mengawal rupiah dan membuat ramuan agar rupiah tetap kuat. Salah satunya dengan meyakinkan pelaku pasar. 
Keempat, pertumbuhan ekonomi akan digenjot lewat skenario wirausaha. Reformasi pajak dan geliat infrastruktur bisa mendorong banyak individu untuk berusaha. 
Ekonom Universitas Indonesia (UI) Lana Soelistianingsih menilai positif janji pasangan capres Prabowo-Sandi. Toh, pilihan mesin ekonomi lokal tak berarti Indonesia berubah menjadi negara tertutup bagi asing.

© PajakOnline.com | ‹ Dibaca 20 kali ›

Pencarian Berita Pajak
Kata Kunci :