Kamis, 12 Desember 2019  

Berita Pajak

Otoritas Pantau Transaksi via Media Sosial

Harian Bisnis Indonesia, Senin 30 September 2019

   Cari Berita Pajak    Kirim Komentar    Beritahu Teman    Cetak A A A  

Otoritas Pantau Transaksi via Media Sosial Para pelaku usaha perdagangan elektronik (dagang-el) atau perdagangan melalui platform media sosial diimbau untuk terus meningkatkan kepatuhan perpajakan.Pasalnya, saat ini otoritas kepabeanan tengah menggencarkan pengawasan terhadap transaksi atau lalu lintas barang yang dilakukan melalui platform digital.



Apalagi, otoritas telah berulangkali menemukan berbagai kasus transaksi yang dilakukan untuk menghindari kewajiban perpajakan.

Direktur Teknis Kepabeanan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan Fajar Doni, mengatakan bahwa setiap lalu lintas barang terus dipantau oleh otoritas kepabeanan.

Semakin ketat pengawasan, semakin sedikit celah penghindaran perpajakan. Ini juga bertujuan meningkatkan kepatuhan perpajakan.

“Kami terus lakukan itu, sudah ada strateginya,” kata Fajar di Jakarta, Minggu (29/9).

Dia mengatakan DJBC memiliki konsentrasi yang cukup besar untuk menekan ruang pelanggaran.

Kepabeanan juga telah berkolaborasi dengan otoritas pajak untuk memastikan kewajiban perpajakannya terpenuhi.

“Kalau bea masuknya sudah bisa dikenakan, nanti otomatis PPh 22 impornya juga mengikuti,” ucapnya. Bea Cukai sendiri baru-baru ini mengungkap modus penghindaran kewajiban perpajakan oleh sebagian masyarakat dengan menggunakan jasa titip atau jastip.

Praktik ini acap kali dilakukan oleh masyarakat Indonesia untuk membeli barang di luar negeri.

Bahkan, cukup banyak masyarakat yang memanfaatkan jasa titip untuk membeli barang. Baik untuk dikonsumsi secara pribadi maupun dijual kembali melalui dagang-el termasuk media sosial.

Setidaknya, hingga 25 September 2019, Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta telah melakukan penindakan terhadap 422 kasus pelanggaran terhadap para pelaku jasa titipan.

Dari 422 penindakan itu Bea Cukai telah berhasil menyelamatkan dana sekitar Rp4 miliar yang seharusnya masuk ke negara.

Adapun rute yang paling sering digunakan pelaku jasa titipan antara lain berasal dari Bangkok, Thailand; Singapura; Hong Kong; Guangzhou, China; Abu Dhabi, Uni Emirat Arab; serta beberapa rute yang berasal dari kota-kota di Australia.

Barang yang sering dimasukkan melalui jasa titip ini cukup beragam. Namun mayoritas yakni 75% adalah barang fesyen meliputi pakaian, kosmetik, tas, hingga sepatu.

Adapun, sisanya adalah barang-barang bernilai yang di dalam negeri dibanderol dengan harga cukup mahal.

© PajakOnline.com | ‹ Dibaca 30 kali ›

Pencarian Berita Pajak
Kata Kunci :