Selasa, 19 Nopember 2019  

Berita Pajak

Mobil Hibrida Makin Melejit

Harian Bisnis Indonesia, Kamis 31 Oktober 2019

   Cari Berita Pajak    Kirim Komentar    Beritahu Teman    Cetak A A A  

Mobil Hibrida Makin Melejit Bisnis, JAKARTA — Mobil hibrida diproyeksikan makin melejit berkat keringanan tarif pajak penjualan barang mewah (PPnBM), setelah sepanjang 9 bulan pertama 2019 mencatatkan kenaikan penjualan signifi kan berkat kehadiran model-model baru.Direktur Pemasaran PT Toyota-Astra Motor (TAM) Anton Jimmy Suwandi mengatakan keringanan tarif PPnBM

untuk mobil hibrida akan mendo- rong penjualan. Tahun ini, penjualan kendaraan hibrida tumbuh positif berkat model baru dengan harga yang tidak berbeda jauh dengan model konvensional.

“Rasanya [kendaraan hibrida] bisa makin tumbuh karena harga makin terjangkau. Dan beda sedikit dengan non-hybrid ,” ujarnya kepada Bisnis , Selasa (29/10).

Pemerintah telah merilis Peratur- an Pemerintah No. 73/2019 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah. Aturan PPnBM baru yang akan berlaku 2 tahun lagi itu mengatur tarif yang lebih rendah untuk kendaraan yang termasuk low carbon emission vehicle (LCEV).

Kendaraan hibrida dengan kapasi- tas mesin sampai 3.000 cc dikenai tarif 15% dengan dasar pengenaan pajak (DPP) 13,34% dari harga jual dengan syarat konsumsi bahan bakar mampu menyentuh 23 km per liter. Tarif ini lebih murah dibandingkan dengan tarif yang berlaku saat ini.

Toyota menjadi salah satu merek yang sangat aktif menghadirkan ken- daraan berteknologi hibrida ke pasar domestik. Toyota telah merilis tiga produk berteknologi hibrida mulai All New Camry Hybrid pada awal tahun, disusul C-HR Hybrid, dan baru-baru All New Corolla Altis.

“Memang penjualannya tumbuh tahun ini berkat ada beberapa model baru hibrida,” ujar Anton. Model lain dari Toyota yang memiliki varian hibrida adalah Alphard.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan mobil berteknologi hibrida pada Januari—September 2019 sebanyak 532 unit di luar kendaraan para menteri Kabinet Indonesia Maju yang sebanyak 102 unit Toyota Crown 2.5 Hybrid.

Capaian pengiriman kendaran hibrida ke dealer itu berbanding terbalik dengan posisi tahun lalu yang hanya 63 unit. Minimnya produk yang tersedia di pasaran dan harga yang masih mahal menjadi dua alasan hibrida tidak menjadi pilihan pada 2018.

Dari ketiga model yang dirilis Toyota tahun ini, C-HR menjadi yang telaris disusul Camry, sementara Corolla merupakan model baru yang dirilis pada September lalu. C-HR Hybrid mampu mencuri hati konsumen karena perbedaan harga yang tidak terlalu jauh dengan model C-HR internal combustion engine (ICE).

C-HR Hybrid dipasarkan seharga Rp523,3 juta–Rp524,8 juta (OTR DKI Jakarta), sementara C-HR seharga Rp493,3 juta–Rp594,8 juta. Selama Januari–September C-HR Hybrid dikirimkan ke dealer 277 unit, jauh lebih tinggi dari model biasa yang hanya 99 unit.

Selain Toyota, merek lain yang memasarkan model hibrida adalah Lexus, dan BMW yang memasarkan kendaraan hibrida colokan BMW i8.

DISINSENTIF KBH2

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elek- tronika Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Harjanto mengatakan disinsentif pajak untuk kendaraan bermotor hemat energi dan harga terjangkau atau KBH2 adalah bagian dari upaya menggiring industri untuk mengembangkan mobil listrik.

Menurutnya, perubahan PPnBM untuk KBH2 merupakan kebijakan untuk mendorong elektrifi kasi kendaraan dan menekan emisi gas buang. “PPnBM kan bicara harmonisasi sesuai dengan emisi. Yang emisinya tinggi tentunya akan kena penalti. Polanya memberikan reward kepada yang emisinya rendah,” katanya, Selasa (29/10).

Dia menjelaskan tarif PPnBM baru sebesar 3% untuk KBH2 akan diberlakukan 2 tahun setelah PP No. 73/2019 diundangkan pada 16 Oktober 2019. Saat berlaku efektif, PPnBM sebagai salah satu komponen harga akan mengerek naik harga jual KBH2.

Dia menyatakan insentif lebih besar kini akan diberikan kepada mobil terelektrifi kasi, sesuai dengan harapan pemerintah mengembangkan kendaraan listrik.

“Kalau ke depan kita memberikan peluang untuk KBH2, paling tidak tetap bisa kontinyu, tapi kita berikan disinsentif sedikit supaya insentifnya itu lebih banyak kepada produk yang berteknologi tinggi dan beremisi rendah.”

Dia menambahkan kenaikan harga sebesar 3% karena PPnBM baru nanti tidak akan berdampak signifi kan terhadap pasar KBH2. Dia menilai, meski tanpa insentif harga mobil ini masih akan lebih terjangkau dibandingkan mobil terelektrifi kasi yang mendapatkan insentif perpajakan.

“Pemerintah memberikan banyak insentif supaya mengembangkan elektrifikasi kendaraan ini bisa berjalan secara cepat,” tuturnya.

Dia menuturkan aturan ini sudah dibahas bersama dengan para pelaku industri otomotif sehingga pelaku usaha diharapkan bisa mempersiapkan diri untuk beralih ke mobil listrik selagi menunggu berlakunya tarif PPnBM baru.

© PajakOnline.com | ‹ Dibaca 23 kali ›

Pencarian Berita Pajak
Kata Kunci :