Minggu, 23 Nopember 2014  

Belajar Perpajakan

Jenis-Jenis Obyek Pajak Penghasilan

A A A 

Sebutkan jenis-jenis Obyek Pajak Penghasilan ?

B. Jenis-Jenis Obyek Pajak Penghasilan

  1. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa, kecuali ditentukan lain oleh Undang-Undang PPh :

    -

    Semua pembayaran atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan, seperti ; upah, gaji, premi asuransi kesehatan yang dibayar oleh pemberi kerja, atau imbalan dalam bentuk lainnya merupakan obyek pajak.

    -

    Pengertian imbalan dalam bentuk lainnya termasuk imbalan dalam bentuk natura yang diberikan oleh non subyek pajak penghasilan.

  2. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan dan penghargaan :

    -

    Meliputi hadiah dari undian, pekerjaan, dan kegiatan seperti ; hadiah undian tabungan, hadiah pertandingan olah raga, dan sebagainya.

    -

    Yang dimaksud penghargaan adalah imbalan yang diberikan sehubungan dengan kegiatan tertentu, misalnya imbalan yang diterima sehubungan dengan penemuan benda-benda purbakala.

  3. Laba usaha

  4. Keuntungan penjualan atau pengalihan harta (capital gain):

    -

    Keuntungan dari penjualan atau pengalihan harta (aktiva) merupakan selisih lebih antara harga jual atau harga pasar wajar harta pada saat dijual/dialihkan dengan nilai perolehan (atas harta yang tidak dapat disusutkan) atau nilai sisa buku fiskal (nilai sisa buku berdasarkan penyusutan secara fiskal) atas harta yang disusutkan.

    Misalnya ;
    PT Abadi menjual sebuah aktiva berupa truk dengan harga jual Rp 80 Juta. Apabila nilai sisa buku fiskal truk tersebut sebesar Rp 20 Juta, maka keuntungannya adalah Rp 60 Juta (merupakan obyek Pajak Penghasilan).

    -

    Apabila penjualan harta tersebut dilakukan antara badan usaha dengan pemegang sahamnya (pihak yang memiliki hubungan istimewa), maka harga jual yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung keuntungan tersebut adalah harga pasar.

    Misalnya ;
    PT Abadi dalam kasus di atas menjual truknya kepada Amin (pemegang saham) seharga Rp 40 Juta. Keuntungan PT Abadi yang merupakan obyek PPh tetap sebesar Rp 60 Juta (harga pasar wajar - nilai sisa buku fiskal). Bagi Amin pun jumlah sebesar Rp 40 merupakan obyek pajak penghasilan (nilai pasar wajar - jumlah yang dibayar).

    -

    Keuntungan atas pengalihan harta bukan merupakan obyek PPh dalam hal :

    -

    Pengalihan harta sebagai bantuan atau sumbangan atau hibah yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, dan oleh badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau pengusaha kecil termasuk Koperasi yang ditetapkan Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan ( 604/KMK.04/1994 ).

    -

    Pengalihan harta dalam rangka penggabungan, peleburan, atau pemekaran usaha wajib pajak yang diperkenankan melakukan penggabungan, peleburan atau pemekaran usaha dengan nilai buku (perusahaan yang akan menjual sahamnya di bursa efek). Lihat 422/KMK.04/1998 Jo 469/KMK.04/1998.

    Artinya, baik bagi pihak yang mengalihkan maupun pihak yang menerima pengalihan tidak terdapat keuntungan yang merupakan obyek PPh.Pihak yang mengalihkan pun tidak dapat membebankan nilai sisa buku fiskal aktiva tersebut sebagai biaya (non deductible sesuai dengan Pasal 9 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000).

  5. Penerimaan kembali pajak yang semula telah dibebankan sebagai biaya

    -

    Pengembalian (restitusi pajak) yang semula telah dibebankan sebagai biaya pada saat menghitung Penghasilan Kena Pajak, merupakan obyek pajak penghasilan.

    -

    Misalnya ; Pajak Bumi dan Bangunan yang sudah dibayar dan dibebankan sebagai biaya yang karena suatu sebab dikembalikan. Jumlah yang dikembalikan tersebut merupakan penghasilan.

  6. Bunga, termasuk premium, diskonto, dan jaminan karena pengembalian utang :

    -

    Premium terjadi apabila obligasi dijual di atas nilai nominalnya. Sedangkan diskonto terjadi apabila surat obligasi dibeli di bawah nilai nominalnya.

    -

    Premium tersebut merupakan penghasilan bagi yang menerbitkan obligasi, sedangkan diskonto merupakan penghasilan bagi pihak yang membeli obligasi.

  7. Dividen dengan nama dan dalam bentuk apapun, yaitu terdiri dari :

    -

    Pembagian laba baik secara langsung ataupun tidak langsung, dengan nama dan dalam bentuk apapun

    -

    Pembayaran kembali karena likuidasi yang melebihi jumlah modal yang disetor

    -

    Pemberian saham bonus tanpa penyetoran, termasuk saham bonus dari kapitalisasi agio saham, kecuali : apabila jumlah nilai nominal saham yang dimilikinya setelah pembagian saham bonus tersebut tidak melebihi jumlah setoran modalnya ( Peraturan Pemerintah Nomor 138 TAHUN 2000 )

    -

    Pembagian laba dalam bentuk saham (dividen saham)

    -

    Pencatatan tambahan modal tanpa penyetoran, kecuali yang berasal dari kapitalisasi selisih lebih revaluasi aktiva tetap ( Peraturan Pemeritah Nomor 138 TAHUN 2000 )

    -

    Jumlah yang melebihi jumlah setoran sahamnya yang diterima atau diperoleh pemegang saham karena pembelian kembali saham-saham oleh perseroan yang bersangkutan

    -

    Pembayaran kembali seluruhnya atau sebagian dari modal yang disetor, jika dalam tahun-tahun yang lampau diperoleh keuntungan, kecuali jika pembayaran kembali tersebut akibat dari pengecilan modal (statuter) yang dilakukan secara sah

    -

    Pembayaran sehubungan dengan tanda-tanda laba, termasuk yang diterima sebagai penebusan tanda-tanda laba tersebut

    -

    Bagian laba sehubungan dengan kepemilikan obligasi

    -

    Bagian laba yang diterima oleh pemegang polis

    -

    Pembagian sisa hasil usaha kepada anggota koperasi

    -

    Pengeluaran perusahaan untuk keperluan pribadi pemegang saham yang dibebankan sebagai biaya perusahaan.

  8. Royalti, yaitu imbalan sehubungan dengan penggunaan :

    -

    Hak atas harta tak berwujud, misalnya hak pengarang, patent, merek dagang, formula, atau rahasia perusahaan.

    -

    Hak atas harta berwujud, hak atas alat-alat industri, komersial, dan ilmu pengetahuan, yaitu setiap peralatan yang mempunyai nilai intelektual, misalnya peralatan-peralatan yang digunakan di beberapa industri khusus seperti anjungan pengeboran minyak (drilling rig).

    -

    Informasi, yaitu informasi yang belum diungkapkan secara umum, walaupun mungkin belum dipatenkan, misalnya pengalaman di bidang industri atau bidang lainnya.

  9. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta

  10. Penerimaan atau perolehan pembayaran secara berkala, misalnya alimentasi atau tunjangan seumur hidup yang dibayar secara berulang-ulang dalam jangka waktu tertentu.

  11. Keuntungan karena pembebasan utang :

    -

    Pembebasan utang merupakan penghasilan bagi pihak yang semula berutang dan biaya bagi pihak yang semula berpiutang.

    -

    Pembebasan utang debitur kecil, seperti Kredit Usaha Keluarga Prasejahtera (Kukesra), Kredit Usaha Tani (KUT), Kredit untuk Perumahan Sangat Sederhana, serta kredit kecil lainnya sampai jumlah tertentu dikecualikan dari obyek PPh.

    -

    Utang debitur kecil adalah utang usaha yang jumlahnya tidak lebih dari Rp 350 Juta ( Peraturan Pemerintah Nomor 130 TAHUN 2000 )

  12. Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing :

    -

    Dapat disebabkan oleh fluktuasi kurs mata uang asing atau adanya kebijakan Pemerintah di bidang moneter.

    -

    Keuntungan selisih kurs yang disebabkan oleh fluktuasi kurs mata uang asing, pengenaan pajaknya dikaitkan dengan sistem pembukuan yang dianut wajib pajak dengan syarat dilakukan secara taat asas.

    -

    Apabila wajib pajak menggunakan sistem pembukuan berdasarkan kurs tetap (kurs historis), keuntungan selisih kurs-nya diakui pada saat terjadinya realisasi mata uang asing tersebut.

    -

    Apabila wajib pajak menggunakan sistem pembukuan berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia atau kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir tahun (per tanggal neraca), maka keuntungan selisih kurs-nya diakui pada setiap akhir tahun berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia atau kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir tahun.

    -

    Keuntungan selisih kurs karena kebijakan Pemerintah di bidang moneter dapat dibukukan dalam perkiraan sementara di neraca, dan diakui secara bertahap berdasarkan realisasi mata uang tersebut.

  13. Premi asuransi yang diterima atau diperoleh perusahaan asuransi dari para peserta asuransi (pemegang polis).

  14. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva.

  15. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari wajib pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas.

  16. Tambahan kekayaan netto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak:

    -

    Tambahan kekayaan netto pada hakikatnya merupakan akumulasi penghasilan baik penghasilan yang telah dikenakan pajak, yang belum dikenakan pajak, maupun penghasilan yang bukan obyek pajak.

    -

    Apabila diketahui adanya tambahan kekayaan neto yang melebihi akumulasi penghasilan yang telah dikenakan pajak dan yang bukan merupakan oyek pajak, maka tambahan kekayaan neto tersebut merupakan penghasilan (obyek pajak).

© PajakOnline.com |  ‹ Dibaca 21592 kali ›


Pencarian Artikel Tax Learning
Kata Kunci :
Match  
AND  
OR  
Topik :  
Cari di :
Judul  
Isi  
 
Hasil per halaman :