Selasa, 23 Januari 2018  

Belajar Perpajakan

Perlakuan Zakat atas Penghasilan dalam Penghitungan Penghasilan Kena Pajak

A A A 

PERLAKUAN ZAKAT ATAS PENGHASILAN DALAM PENGHITUNGAN PENGHASILAN KENA PAJAK


  1. Perlakuan Zakat atas Penghasilan dalam Penghitungan Penghasilan Kena Pajak (KEP - 163/PJ/2003)

1.

Zakat atas Penghasilan dapat dikurangkan dari penghasilan bruto Wajib Pajak Badan atau Penghasilan Neto Wajib Pajak Orang Pribadi dalam menentukan Penghasilan Kena Pajak, sepanjang :

 

-

Zakat tersebut dibayarkan oleh  Wajib Pajak Dalam Negeri Pemeluk Agama Islam.

 

-

Zakat tersebut dibayarkan kepada Badan Amil Zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat.

2.

Tarif zakat adalah 2,5% (dua setengah persen) dari jumlah penghasilan yang merupakan Objek Pajak yang dikenakan Pajak Penghasilan yang tidak bersifat final.

3.

Bagi wanita kawin dan anak yang belum dewasa yang pengenaan pajaknya digabungkan dengan penghasilan suami atau orang tua, maka zakat atas penghasilan tersebut dikurangkan dari penghasilan suami atau orang tuanya.

4.

Zakat atas penghasilan bagi wanita kawin yang dikenakan pajak secara terpisah atau penghasilan yang semata-mata diterima atau diperoleh dari 1 (satu) pemberi kerja yang telah dipotong pajak berdasarkan ketentuan Pasal 21 Undang-undang Pajak Penghasilan dan pekerjaan tsb tidak ada hubungannya dengan usaha atau pekerjaan bebas suami atau anggota keluarga lainnya, serta zakat atas penghasilan anak yang belum dewasa dari pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan usaha orang yang mempunyai hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis keturunan lurus dan atau ke samping satu derajat, hanya dapat dikurangkan dari penghasilan neto sepanjang yang bersangkutan sudah terdaftar sebagai Wajib Pajak.

Contoh :

Rasyid, wajib pajak yang beragama Islam, memiliki usaha perorangan dibidang percetakan. Selama tahun 2003, Rasyid memperoleh penghasilan sebagai berikut :

-

Penghasilan objek PPh yang tidak bersifat final sebesar Rp 300.000.000,- (dari kegiatan usaha); dan

-

Penghasilan objel PPh yang bersifat final sebesar Rp 100.000.000,- (misalnya dari sewa rumah dan bunga deposito).

Sebagai pemeluk agama Islam yang baik, Rasyid membayar zakat sebesar 2,5% dari seluruh penghasilan tahun 2003 tersebut kepada badan/lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah. Berapa besarnya zakat yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto Rasyid menurut keputusan ini?

Berdasarkan keputusan ini, zakat yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto Rasyid (deductible expense) untuk menghitung Penghasilan Kena Pajak hanya sebesar 2,5% dari penghasilan yang merupakan objek PPh yang tidak bersifat final.

Jadi, besarnya zakat atas penghasilan Rasyid pada tahun 2003 yang deductible adalah sebesar Rp 7.500.000,- dengan perhitungan sebagai berikut :

Penghasilan tahun 2003 yang merupakan objek PPh yang tidak bersifat final

=

Rp 300.000.000,-

Zakat yang deductible = 2,5% x Rp 300.000.000,-

=

Rp 7.500.000,-

Zakat sebesar Rp 7.500.000,- tersebut dapat dibiayakan oleh Rasyid bersamaan dengan pelaporan penghasilannya di SPT Tahunan PPh Tahunn Pajak 2003.

Catatan :

Dalam hal zakat sebesar Rp 7.500.000,- tersebut baru dibayarkan oleh Rasyid dalam tahun pajak 2004 nanti, maka Rasyid dapat membiayakan zakat tadi pada SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2004, dengan syarat Rasyid dapat membuktikan bahwa penghasilan yang bersangkutan sudah dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh Tahunn Pajak 2003.

Atas pembebanan zakat di SPT, Rasyid wajib melampirkan Surat Setoran Zakat atau fotokopinya yang telah dilegalisir oleh badan/lembaga amil zakat pada SPT Tahunan PPh yang dilaporkannya.

© PajakOnline.com |  ‹ Dibaca 7487 kali ›

Peraturan Terkait


Pencarian Artikel Tax Learning
Kata Kunci :
Match  
AND  
OR  
Topik :  
Cari di :
Judul  
Isi  
 
Hasil per halaman :