Kamis, 21 Nopember 2019  

Belajar Perpajakan

Pph Final Atas Bunga Atau Diskonto Obligasi Yang Dijual Di Bursa Efek

A A A 

PPh atas Penghasilan dari Obligasi yang Diperdagangkan di Bursa Efek

(Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2002 jo Keputusan Menteri Keuangan No.121/KMK.03/2002)

 

Bagaimana cara Objek Pemotongan ?

Objek Pemotongan

Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh wajib pajak berupa bunga dan diskonto obligasi yang diperdagangkan dibursa efek dan atau yang dilaporkan dibursa efek dikenakan pemotongan PPh yang bersifat final kecuali bagi wajib pajak tertentu.

 

Siapakah Pemotong Pajak ?

Pemotong Pajak

  1. Penerbit obligasi (emiten) atau kustodian yang ditunjuk selaku agen pembayaran atas bunga dengan kupon pada saat jatuh tempo bunga/obligasi dan atas diskonto dengan kupon/obligasi.

  2. Perusahaan efek atau bank selaku pedagang perantara atas bunga dan diskonto pada saat transaksi.

  3. Perusahaan efek, Bank, Dana Pensiun dan Reksadana selaku pembeli obligasi langsung tanpa melalui perantara atas bunga dan diskonto obligasi pada saat jatuh tempo.

Dalam hal obligasi tidak diperdagangkan dan tidak terdaftar di bursa efek maka pemotongan pajak penghasilannya mengikuti ketentuan pasal 23 atau pasal 26 Undang-Undang Pajak Penghasilan.

 

Bagaimana perhitungan Tarif Pemotongan ?

Tarif Pemotongan

No

Objek Pemotongan

Penerima

Tarif

Dasar Tarif

1.

Bunga Obligasi dengan kupon 

1.

WP DN & BUT

2.

WP LN

 

20 % 

 

20 % atau tarif berdasarkan P3B

Jumlah Bruto bunga sesuai dengan masa kepemilikan obligasi

2.

Diskonto Obligasi dengan kupon

1.

WP DN & BUT

2.

WP LN

 

20 %

 

20 % atau tarif berdasarkan P3B

Selisih lebih harga jual atau nilai nominal di atas harga perolehan obligasi, tidak termasuk bunga berjalan

3.

Diskonto Obligasi Tanpa bunga

1. WP DN & BUT
2. WP LN

 

20 %

 

20 % atau tarif berdasarkan P3B

Selisih lebih harga jual atau nilai nominal di atas harga perolehan obligasi.

 

Bagaimana Pajak yang dikenakan atas penghasilan dari obligasi yang diperjual-belikan di bursa efek bersifat final kecuali atas bunga dan obligasi yang diterima atau diperoleh wajib pajak berdasarkan pasal 4 dan pasal 5 ayat (1) Keputusan Menteri Keuangan No.121/KMK.03/2002 ?

Pajak yang dikenakan atas penghasilan dari obligasi yang diperjual-belikan di bursa efek bersifat final kecuali atas bunga dan obligasi yang diterima atau diperoleh wajib pajak (pasal 4 dan pasal 5 ayat (1) Keputusan Menteri Keuangan No.121/KMK.03/2002) :

  1. Bank yang didirikan di Indonesia atau cabang bank luar negeri di Indonesia.

  2. Dana Pensiun yang pendiriannya telah disyahkan oleh Menteri Keuangan.

  3. Reksadana yang terdaftar pada Badan Pengawas Pasar Modal selama 5 (lima) tahun pertama sejak pendirian perusahaan atau pemberian izin usaha.

  4. Wajib pajak orang pribadi dalam negeri yang seluruh total penghasilannya termasuk dengan penghasilan bunga obligasi tidak melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak.

 

Apakah kewajiban penjual obligasi ?

Kewajiban Penjual obligasi :

  1. Kewajiban penjual obligasi untuk memberitahukan kepada pemotong pajak mengenai harga perolehan obligasi dan tanggal perolehan yang sebenarnya untuk keperluan penghitungan bunga dan diskonto yang menjadi dasar pemotongan Pajak Penghasilan, dilakukan dengan menyerahkan lembar ke-4 Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) atau lembar ke-3 Lampiran Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23/Pasal 26 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2), dari pembelian obligasi tersebut sebelumnya.

  2. Kewajiban tersebut juga berlaku bagi penjual obligasi yang tidak di kenakan pemotongan Pajak Penghasilan.

 

Apakah kewajiban pemotong pajak ?

Kewajiban Pemotong Pajak :

  1. Memberikan Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) kepada Wajib Pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan bunga dan diskonto obligasi yang di perdagangkan dan atau dilaporkan perdagangannya di bursa efek;

  2. Memberikan Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23/ Pasal 26 beserta Lampiran khusus kepada Wajib Pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan bunga dan diskonto obligasi yang tidak diperdagangkan dan tidak dilaporkan perdagangannya di bursa efek;

  3. Menyetor Pajak Penghasilan yang terutang ke Bank Persepsi atau Kantor Pos dan Giro selambat-lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya setelah bulan pemotongan, dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP);

  4. Melaporkan pemotongan dan penyetoran Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, dan c ke Kantor Pelayanan Pajak selambat-lambatnya tanggal 20 bulan berikutnya setelah bulan pemotongan, dengan menggunakan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) atau Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 23 / Pasal 26.

 

Berikan contoh perhitungan pajak berdasarkan Kep. Menkeu No. 121/KMK.03/2002 !

Contoh Perhitungan (sesuai dengan Kep. Menkeu No. 121/KMK.03/2002)

PT Sukses pada 1 Juni 2002, menerbitkan obligasi dengan kupon yang jangka waktunya 5 tahun. Nilai nominal Rp. 10.000.000,- Bunga tetap 16 % per tahun, jatuh tempo bunga setiap tangal 30 Juni dan 31 Desember.

Saat penerbitan perdana, PT STAN (investor) membeli 10 lembar obligasi dengan harga di bawah nilai nominal (discount), yaitu sebesar Rp. 9.000.000,- /lembar

Penghitungan bunga dan PPh final yang terutang oleh PT STAN pada saat jatuh tempo bunga 31 Desember adalah,

-

Bunga

=

(6/12 x 16% x Rp 10.000.000,-) x 10

=

Rp. 8.000.000,-

-

PPh Final

=

20% x Rp. 8.000.000,-

=

Rp. 1.600.000,-

-

(dipotong oleh emiten atau kustodian yang ditunjuk sebagai agen pembayar)

© PajakOnline.com |  ‹ Dibaca 25610 kali ›


Pencarian Artikel Tax Learning
Kata Kunci :
Match  
AND  
OR  
Topik :  
Cari di :
Judul  
Isi  
 
Hasil per halaman :