Senin, 14 Oktober 2019  

Belajar Perpajakan

Put.01567/BPSP/M.VI/15/2000

A A A 

Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put.01567/BPSP/M.VI/15/2000

Jenis Pajak

:

Pajak Penghasilan Badan

Tahun Pajak

:

1994

Pokok Sengketa

:

1. Koreksi atas Peredaran Usaha sebesar Rp 892.031.848,00

2. Koreksi atas Harga Pokok Penjualan sebesar Rp 303.769.874,00

3. Koreksi atas Pengurang Penghasilan Bruto sebesar Rp 144.422.048,00

4. Koreksi atas Penghasilan Luar Usaha sebesar Rp 977.956.292,00

1. Koreksi atas Peredaran Usaha sebesar Rp 892.031.848,00

Menurut Terbanding

:

Koreksi tersebut merupakan koreksi atas retur penjualan tahun sebelumnya dan sudah diakui dan dilaporkan sebagai penjualan pada SPT PPh tahun sebelumnya sehingga tidak boleh diperhitungkan sebagai retur penjualan untuk tahun 1994.

Menurut Pemohon

:

Alasan koreksi tersebut di atas tidak dapat Pemohon terima karena retur penjualan tersebut pada prinsipnya adalah pengembalian produk kimia (chemical) oleh Pembeli yang dalam hal ini adalah PT. Kertas Letjes dan dapat Pemohon buktikan dengan nota retur penjualan dan SPT Masa PPN Masa Pajak Januari s.d. Desember 1994.

Pendapat Majelis

:

Dalam persidangan Pemohon membawa bukti-bukti dan menjelaskan koreksi Terbanding atas retur penjualan sebesar Rp 892.031.848,00 yang belum dilaporkan dalam SPT Masa PPN Masa Pajak Januari s.d. Desember 1993 dan baru dilaporkan dalam SPT Masa PPN Masa Pajak Januari s.d. Desember 1994.

Terbanding setelah memeriksa bukti-bukti yang diajukan oleh Pemohon dalam persidangan menyatakan bahwa sanggahan dan bukti-bukti yang diajukan oleh Pemohon sudah benar dan setuju untuk membatalkan koreksi Terbanding atas peredaran usaha.

Setelah memeriksa bukti-bukti yang diajukan oleh Pemohon dalam persidangan berkesimpulan terdapat cukup bukti bahwa koreksi peredaran usaha sebesar Rp 892.031.848,00 adalah merupakan pengembalian produk kimia (chemical) oleh Pembeli yang dalam hal ini adalah PT. Kertas Letjes dan dapat dibuktikan oleh Pemohon dengan nota retur penjualan dan SPT Masa PPN Masa Pajak Januari s.d. Desember 1994, dengan demikian maka koreksi Terbanding tidak dapat dipertahankan.

2. Koreksi atas Harga Pokok Penjualan sebesar Rp 303.769.874,00

Menurut Terbanding

:

Koreksi tersebut merupakan koreksi atas retur pembelian tahun sebelumnya dan sudah diakui dan dilaporkan sebagai harga pokok penjualan pada SPT PPh tahun sebelumnya sehingga tidak dapat diperhitungkan sebagai harga pokok untuk tahun 1994.

Menurut Pemohon

:

Alasan koreksi tersebut di atas tidak dapat Pemohon terima karena retur pembelian tersebut pada prinsipnya adalah merupakan retur dari pembelian tahun 1993 dan baru dikembalikan pada tahun 1994 dan dapat Pemohon buktikan dengan nota retur pembelian dan SPT Masa PPN Masa Pajak Januari s.d. Desember 1994.

Pendapat Majelis

:

Dalam persidangan Pemohon membawa bukti-bukti dan menjelaskan koreksi Terbanding atas retur pembelian sebesar Rp 303.769.874,00 yang belum dilaporkan dalam SPT Masa PPN Masa Pajak Januari s.d. Desember 1993 dan baru dilaporkan dalam SPT Masa PPN Masa Pajak Januari s.d. Desember 1994.

Terbanding setelah memeriksa bukti-bukti yang diajukan oleh Pemohon dalam persidangan menyatakan bahwa sanggahan dan bukti-bukti yang diajukan oleh Pemohon dapat diterima dan setuju untuk membatalkan koreksi Terbanding atas Harga Pokok Penjualan.

Setelah memeriksa bukti-bukti yang diajukan oleh Pemohon dalam persidangan berkesimpulan terdapat cukup bukti bahwa koreksi Harga Pokok Penjualan sebesar Rp303.769.874,00 adalah merupakan retur pembelian tahun 1993 dan baru dikembalikan pada tahun 1994, dengan demikian maka koreksi Terbanding tidak dapat dipertahankan.

3. Koreksi atas Pengurang Penghasilan Bruto sebesar Rp 144.422.048,00

Menurut Terbanding

:

Koreksi sebesar Rp 144.422.048,00 yang terdiri dari kerugian chemical sebesar Rp 143.744.225,00 dan koreksi biaya operasi lainnya sebesar Rp 1.677.823,00 karena setelah diteliti kembali terhadap berkas-berkas Pemohon ternyata pengeluaran tersebut tidak didukung oleh bukti-bukti ekstern, sehingga Terbanding mengusulkan koreksi tersebut tetap dipertahankan.

Menurut Pemohon

:

Pengurang Penghasilan Bruto yang dikoreksi oleh Terbanding adalah merupakan biaya-biaya dan kerugian chemical yang tidak diakui oleh Terbanding.

Bahwa kerugian chemical ditempatkan sebagai Pengurang Penghasilan Bruto atas Pos Luar Biasa karena hal tersebut bukan merupakan biaya operasional atau tidak dapat digolongkan sebagai biaya operasional.

Pendapat Majelis

:

Setelah dilakukan pemeriksaan dalam persidangan atas bukti-bukti yang diserahkan oleh Pemohon berupa fotokopi surat perjanjian jual-beli, surat pengantar pengembalian barang/retur penjualan dan memorandum dari PT. Kertas Letjes serta surat menyurat lainnya yang terkait dengan koreksi kerugian chemical sebesar Rp 143.744.225,00 Majelis berpendapat bahwa bukti-bukti tersebut tidak mencukupi untuk mendukung sanggahan Pemohon atas koreksi Terbanding karena Pemohon dalam persidangan tidak dapat menjelaskan hubungan antara bukti-bukti yang diajukan dengan prosedur pembukuan yang dilakukan oleh Pemohon.

Bahwa atas koreksi biaya operasi lainnya sebesar Rp 1.677.823,00 Pemohon juga tidak dapat memberikan bukti yang cukup untuk mendukung sanggahannya.

Oleh karenanya Majelis berpendapat bahwa Terbanding sudah benar dalam melakukan koreksi atas Pengurang Penghasilan Bruto sebesar Rp 144.422.048,00 yang terdiri dari kerugian chemical sebesar Rp 143.744.225,00 dan koreksi biaya operasi lainnya sebesar Rp 1.677.823,00 sehingga koreksi tersebut dipertahankan.

4. Koreksi atas Penghasilan Luar Usaha sebesar Rp 977.956.292,00

Menurut Terbanding

:

Koreksi Penghasilan Luar Usaha dilakukan karena terdapat penghasilan lain-lain, penghasilan bunga piutang kepada perusahaan lain dan penghasilan bunga piutang pemegang saham yang tidak dilaporkan oleh Pemohon sebesar Rp 977.956.292,00.

Menurut Pemohon

:

Koreksi penghasilan luar usaha sebesar Rp 977.956.292,00 sangat membingungkan Pemohon karena selama tahun 1994 semua penghasilan telah Pemohon laporkan seluruhnya dalam SPT Formulir 1771 tahun 1994 sebagaimana dimaksud Pasal 4 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983.

Oleh karenanya sangat tidak masuk akal dan aneh apabila perusahaan dalam tahun 1994 memperoleh penghasilan luar usaha yang secara nyata Pemohon sendiri sama sekali tidak pernah mengetahui dan menikmatinya.

Pendapat Majelis

:

Dalam persidangan Terbanding tidak dapat memberikan alasan dan dasar koreksi serta bukti-bukti yang mendukung atas koreksi Penghasilan Luar Usaha sebesar Rp 977.956.292,00, sehingga Majelis berpendapat tidak terdapat alasan yang cukup untuk mempertahankan koreksi yang dilakukan Terbanding tersebut.

© PajakOnline.com |  ‹ Dibaca 2138 kali ›


Pencarian Artikel Tax Learning
Kata Kunci :
Match  
AND  
OR  
Topik :  
Cari di :
Judul  
Isi  
 
Hasil per halaman :