Kamis, 12 Desember 2019  

Peraturan Perpajakan

  • 169

Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP - 169/PJ./2001

Ditetapkan tanggal 22 Februari 2001

BENTUK SURAT SETORAN PAJAK
Arsip Cari Peraturan Perpajakan Topik: KUP Umum » Keputusan Dirjen Pajak » 2001 Topik: Semua KUP » Keputusan Dirjen Pajak » 2001

Keputusan Dirjen Pajak No KEP - 169/PJ./2001 telah mengalami perubahan atau penyempurnaan dan kondisi terakhir peraturan tersebut sudah tidak berlaku lagi karena diganti atau dicabut. Untuk melihat detail peraturan terkait Klik disini
			            KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
				          NOMOR KEP - 169/PJ./2001

					          TENTANG

				      BENTUK SURAT SETORAN PAJAK

				         DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Menimbang :

a.	bahwa mulai tahun anggaran 2001 pelaksanaan penggunaan kode Mata Anggaran Penerimaan (MAP) 
	yang menjadi dasar pengisian kode jenis pajak harus sudah sesuai dengan Undang-undang Nomor 2 
	tahun 2000 tentang Anggaran Pendapatan Belanja Negara;
b.	bahwa dalam upaya untuk meningkatkan pelayanan kepada Wajib Pajak dan penyempurnaan 
	administrasi perpajakan sehubungan dengan perkembangan teknologi informasi perlu dilakukan 
	perubahan dan penambahan bentuk formulir Surat Setoran Pajak;
c.	bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu 
	menetapkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak tentang Bentuk Surat Setoran Pajak;

Mengingat :

1.	Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran 
	Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 
	Nomor 3262) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000 
	(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik 
	Indonesia Nomor 3984);
2.	Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik 
	Indonesia Tahun 1983 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3263) 
	sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000 (Lembaran Negara 
	Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 127, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 
	3985);
3.	Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak 
	Penjualan Atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 51, 
	Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3264) sebagaimana telah diubah terakhir 
	dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 
	Nomor 128, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3986);
4.	Undang-undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai (Lembaran Negara Republik Indonesia 
	Tahun 1985 Nomor 69, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3313);

					       MEMUTUSKAN :

Menetapkan :

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK TENTANG BENTUK SURAT SETORAN PAJAK.


						Pasal 1

Dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini, yang dimaksud dengan :

(1)	Kantor Penerima pembayaran adalah Kantor Pos dan atau bank badan usaha milik Negara atau bank 
	badan usaha milik Daerah atau tempat pembayaran lain yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan 
	sebagai penerima pembayaran atau setoran pajak.

(2)	Surat Setoran Pajak (SSP) adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melakukan 
	pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang ke kas negara melalui Kantor Penerima 
	Pembayaran.

(3)	SSP Standar adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan atau berfungsi untuk melakukan 
	pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang ke Kantor Penerima Pembayaran dan digunakan 
	sebagai bukti pembayaran dengan bentuk, ukuran dan isi sebagaimana ditetapkan dalam lampiran 
	Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini.

(4)	SSP Khusus adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak terutang ke Kantor Penerima 
	Pembayaran yang dicetak oleh Kantor Penerima Pembayaran dengan menggunakan mesin 	transaksi 
	dan atau alat lainnya yang isinya sesuai dengan yang ditetapkan dalam Keputusan Direktur Jenderal 
	Pajak ini, dan mempunyai fungsi yang sama dengan SSP Standar dalam administrasi perpajakan.


						Pasal 2

(1)	Wajib Pajak dapat mengadakan sendiri SSP Standar sepanjang bentuk, ukuran dan isinya sesuai 
	dengan lampiran dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini.

(2)	Satu SSP Standar maupun SSP Khusus hanya dapat digunakan untuk pembayaran satu jenis pajak 
	dan untuk satu Masa Pajak atau satu Tahun Pajak/Ketetapan Pajak, dengan menggunakan satu Kode 
	MAP dan satu Kode Jenis Setoran.


						Pasal 3

(1)	SSP Standar digunakan untuk pembayaran semua jenis pajak, baik yang bersifat final maupun yang 
	bukan final, kecuali setoran Pajak Bumi dan Bangunan dan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan 
	Bangunan.

(2)	SSP Standar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (3) dibuat dalam rangkap 5 (lima) yang 
	peruntukannya sebagai berikut :
	Lembar ke-1	:	Untuk arsip Wajib Pajak.
	Lembar ke-2	:	Untuk Kantor Pelayanan Pajak (KPP) melalui Kantor Perbendaharaan dan 
				Kas Negara (KPKN).
	Lembar ke-3	:	Untuk dilaporkan oleh Wajib Pajak ke KPP.
	Lembar ke-4	:	Untuk arsip Kantor Penerima Pembayaran.
	Lembar ke-5	:	Untuk arsip Wajib Pungut atau pihak lain sesuai dengan ketentuan 
				perundangan perpajakan yang berlaku.

(3)	SSP Standar diisi sesuai dengan Buku Petunjuk Pengisian SSP sebagaimana terlampir dalam 
	Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini.


						Pasal 4

(1)	SSP Khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (4) dicetak oleh Kantor Penerima 
	Pembayaran yang telah mengadakan kerja sama Monitoring Pelaporan Pembayaran Pajak (MP3) 
	dengan Direktorat Jenderal Pajak.

(2)	SSP Khusus dicetak :
	a.	pada saat transaksi pembayaran atau penyetoran pajak sebanyak 2 (dua) lembar, yang 
		berfungsi sama dengan lembar ke-1 dan lembar ke-3 SSP Standar;
	b.	terpisah sebanyak 1.(satu) lembar, yang berfungsi sama dengan lembar ke-2 SSP Standar 
		untuk diteruskan ke KPKN sebagai lampiran Daftar Nominatif Penerimaan (DNP).

(3)	SSP Khusus paling sedikit memuat keterangan-keterangan sebagai berikut :
	a.	Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
	b.	Nama Wajib Pajak;
	c.	Identitas Kantor Penerima Pembayaran;
	d.	Mata Anggaran Penerimaan (MAP)/Kode Jenis Pajak dan Kode Jenis Setoran;
	e.	Masa Pajak dan atau Tahun Pajak;
	f.	Nomor Ketetapan (untuk pembayaran : STP, SKPKB, atau SKPKBT);
	g.	Jumlah dan Tanggal Pembayaran; dan
	h.	Nomor Transaksi Pembayaran Pajak (NTPP) dan atau Nomor Transaksi Bank (NTB).

(4)	SSP Khusus hanya dapat digunakan untuk pembayaran pajak oleh Wajib Pajak yang telah memiliki 
	NPWP.

(5)	Kantor Penerima Pembayaran diperkenankan melayani pembayaran atau penyetoran pajak dengan 
	menggunakan SSP Khusus setelah mendapatkan persetujuan khusus dari Direktur 	Jenderal Pajak.

(6)	Kantor Penerima Pembayaran yang telah mengadakan kerja sama Monitoring Pelaporan Pembayaran 
	Pajak (MP3) dengan Direktorat Jenderal Pajak selain dapat melayani pembayaran atau penyetoran 
	pajak dengan menggunakan SSP Khusus juga tetap diperkenankan melayani pembayaran atau 
	penyetoran pajak dengan menggunakan SSP Standar.

(7)	Pembayaran setoran pajak yang SSP-nya dapat berfungsi sebagai pengganti bukti potong/bukti 
	pungut antara lain pembayaran PPN Impor, PPN Bendaharawan, PPh Pasal 22 Impor, PPh Pasal 22 
	Bendaharawan, PPh Final atas Transaksi Pengalihan Hak atas Tanah dan Bangunan, dan PPh Final 
	atas Persewaan Tanah dan Bangunan tidak dapat menggunakan SSP Khusus.


						Pasal 5

(1)	SSP sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-107/PJ./1998 
	tentang Bentuk Formulir Surat Setoran Pajak, tetap berlaku sampai dengan tanggal 31 Maret 2001.

(2)	Tata cara pengisian SSP sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan sebagai berikut :
	a.	NPWP diisi dengan NPWP 11 digit apabila SSP digunakan untuk melakukan pembayaran 
		sebelum 31 Maret 2001;
	b.	NPWP baru (15 digit) yang diterima oleh Wajib Pajak sebelum tanggal 1 April 2001 baru 
		dapat digunakan untuk identitas pembayaran pajak sejak 1 April 2001 dengan menggunakan 
		SSP sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini.
	c.	NTPP dan atau NTB dicantumkan pada "Ruang Teraan".


						Pasal 6

Pada saat Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku, Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor 
KEP-107/PJ./1998 tentang Bentuk Formulir Surat Setoran Pajak dinyatakan tidak berlaku.


						Pasal 7

Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini 
dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.




Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 22 Februari 2001
DIREKTUR JENDERAL,

ttd

HADI POERNOMO
Peraturan Terkait
  • -

Status Perubahan/Penyempurnaan dan Pencabutan Peraturan
  • -
  • -
  • -
  • -

Historis Peraturan
  • -

Komentar



© PajakOnline.com |  ‹ Dibaca 4355 kali - Dicetak 0 kali ›