TRENDING
Pemungutan PPh Pasal 22 Marketplace Mulai Dilaksanakan 1 Oktober 2026Pemerintah Mulai Terapkan SPP-TDLNPrabowo Rombak Kabinet Merah Putih, 18 Pejabat Dilantik: Suyudi Jadi Kapolri, Listyo Sigit Pimpin KSPDPR Setujui Suyudi Ario Seto Jadi Calon Kapolri, Gantikan Listyo SigitPemerintah Hitung Penyesuaian PTKP, Besaran Baru Belum DiputuskanPajak Marketplace Tak Jadi Dipungut Hari Ini, DJP Tetapkan Mulai 1 November 2026Coretax Resmi Tinggalkan Skema Delta, Mulai Hari Ini Pembetulan SPT Gunakan Mekanisme ReplacePenerimaan Pajak Kanwil DJP Banten Capai Rp48,24 Triliun hingga Agustus 2026Kurs Pajak Terbaru Ditetapkan, Dolar AS Naik Jadi Rp17.863DJP Gandeng 5 Bank dan 1 Fintech, Pungut PPN Transaksi Digital Luar NegeriTidak Lagi Pakai Kartu Izin Praktik, Verifikasi Konsultan Pajak Kini Lewat CoretaxPemkab Blitar Apresiasi Wajib Pajak dalam Gebyar Blitax Award 2026BPPK Buka Pendaftaran Ujian Sertifikasi Konsultan Pajak, Kuota Hanya 50 PesertaPajak Jadi Penopang Utama Penerimaan Negara dalam APBN 2027, Target Capai Rp2.593,35 TriliunDelapan Prioritas Utama Pemerintah dalam APBN 2027, Cek!APBN 2027 Disahkan, Belanja Negara Tembus Rp4.106,3 TriliunPemungutan PPh Pasal 22 Marketplace Mulai Dilaksanakan 1 Oktober 2026Pemerintah Mulai Terapkan SPP-TDLNPrabowo Rombak Kabinet Merah Putih, 18 Pejabat Dilantik: Suyudi Jadi Kapolri, Listyo Sigit Pimpin KSPDPR Setujui Suyudi Ario Seto Jadi Calon Kapolri, Gantikan Listyo SigitPemerintah Hitung Penyesuaian PTKP, Besaran Baru Belum DiputuskanPajak Marketplace Tak Jadi Dipungut Hari Ini, DJP Tetapkan Mulai 1 November 2026Coretax Resmi Tinggalkan Skema Delta, Mulai Hari Ini Pembetulan SPT Gunakan Mekanisme ReplacePenerimaan Pajak Kanwil DJP Banten Capai Rp48,24 Triliun hingga Agustus 2026Kurs Pajak Terbaru Ditetapkan, Dolar AS Naik Jadi Rp17.863DJP Gandeng 5 Bank dan 1 Fintech, Pungut PPN Transaksi Digital Luar NegeriTidak Lagi Pakai Kartu Izin Praktik, Verifikasi Konsultan Pajak Kini Lewat CoretaxPemkab Blitar Apresiasi Wajib Pajak dalam Gebyar Blitax Award 2026BPPK Buka Pendaftaran Ujian Sertifikasi Konsultan Pajak, Kuota Hanya 50 PesertaPajak Jadi Penopang Utama Penerimaan Negara dalam APBN 2027, Target Capai Rp2.593,35 TriliunDelapan Prioritas Utama Pemerintah dalam APBN 2027, Cek!APBN 2027 Disahkan, Belanja Negara Tembus Rp4.106,3 Triliun
PajakOnline
BerandaBerita Pajak
Kalkulator PajakHubungi KamiKebijakan Privasi
← Semua beritaBerita

Jakarta Bebas Bea Balik Nama Kendaraan Bekas

Redaksi PajakOnline · 17 Jan 2024, 20.00 WIB · pajakonline.com

PajakOnline.com—Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menerapkan aturan pajak baru yang menghilangkan atau membebaskan pungutan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) untuk kendaraan penyerahan kedua atau kendaraan bekas. Aturan ini akan diberlakukan tahun depan atau 2025 mendatang.

Aturan baru ini tercantum dalam Peraturan Daerah (Perda) DKI Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Untuk ketentuan perubahan objek BBNKB, ditetapkan berlaku tiga tahun sejak 5 Januari 2022, yang berarti aturan ini akan resmi diterapkan 5 Januari 2025.

Berdasarkan Pasal 10 dalam aturan tersebut, objek BBNKB hanya dikenakan pada penyerahan pertama kendaraan yang didaftarkan di DKI. Tarif BBNKB untuk situasi ini tetap sebesar 12,5 persen, tidak mengalami perubahan dari sebelumnya.

Namun, dalam aturan ini, tidak diatur mengenai tarif BBNKB untuk penyerahan kedua atau peralihan kepemilikan kendaraan bekas.

Dalam bagian penjelasan Pasal 10 di aturan itu tertulis BBNKB hanya dikenakan atas penyerahan pertama Kendaraan Bermotor, sedangkan untuk penyerahan kedua dan seterusnya atas Kendaraan Bermotor tersebut (kendaraan bekas) bukan merupakan objek BBNKB.

Jadi mulai 5 Januari 2025 melakukan balik nama kendaraan bekas di DKI tidak lagi dipungut pajak BBNKB.

Dalam aturan sebelumnya, Perda Nomor 6 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Perda Nomor 9 Tahun 2019 tentang BBNKB, tarif BBNKB untuk penyerahan kedua tertulis 1 persen. Aturan ini tak berlaku lagi usai Perda DKI Nomor 1 2024 terbit.

Penghapusan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) untuk penyerahan kedua di DKI Jakarta sebenarnya bukan kebijakan baru secara nasional. Hal ini sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah yang berlaku sejak 5 Januari 2022. Pasal 12 dalam undang-undang ini telah menghapuskan BBNKB untuk penyerahan kedua di seluruh Indonesia.

Penerapan kebijakan ini di masing-masing provinsi masih tergantung pada kewenangan kepala daerah. Sebelumnya, setidaknya ada 23 provinsi yang telah menerapkan langkah serupa sebelum DKI Jakarta mengadopsinya. (Wiasti Meurani)