
Simulasi edukasi
Kalkulator Pajak
Pilih jenis pajak untuk simulasi. Hasil bersifat edukatif — verifikasi ketentuan resmi sebelum dipakai.
Bukan nasihat perpajakan
Kalkulator ini untuk simulasi edukasi. Hasil bukan opini hukum. Verifikasi ketentuan resmi DJP/DJBC/pemerintah daerah, atau konsultasikan dengan konsultan pajak terdaftar sebelum mengambil keputusan.
Semua jenis Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
Indonesia membedakan PBB daerah (P2) dan PBB pusat (P5L). Satu objek tidak dikenai keduanya sekaligus.

Pajak Pusat — Pajak Penghasilan (PPh)
Pajak langsung subjektif yang dikelola DJP: pemotongan/pemungutan dan PPh badan.
PPh Pasal 21 (TER & Desember)
Pemotongan PPh 21: masa Jan–Nov memakai TER; Desember dihitung ulang dengan Pasal 17 dikurangi potongan Jan–Nov.
Jan–Nov: Bruto × TER · Desember: Pasal 17(neto−PTKP) − PPh Jan–Nov
PPh Pasal 22
Pemungutan atas impor, pengadaan pemerintah, dan penjualan komoditas tertentu.
PPh 22 = Tarif kategori × DPP / Nilai Impor / Harga Jual
PPh Pasal 23
Pemotongan atas dividen/bunga/royalti (15%) atau sewa/jasa (2%) — tanpa PPN.
PPh 23 = Tarif × Jumlah bruto imbalan (tanpa PPN)
PPh Pasal 26 (WPLN)
Pemotongan final atas penghasilan yang dibayar ke Subjek Pajak Luar Negeri (umum 20% atau efektif khusus).
PPh 26 = Tarif efektif × Dasar penghasilan
PPh Pasal 24 (Kredit Pajak Luar Negeri)
Ordinary credit per-negara: kredit = min(pajak LN, porsi PPh terutang atas penghasilan negara itu).
Batas=(PN LN negara/PKP)×PPh terutang · Kredit=min(pajak LN, batas) · Excess hangus
PPh Final — Sewa Tanah/Bangunan
PPh Final 4(2) atas persewaan tanah dan/atau bangunan (tarif 10%).
PPh = 10% × Nilai sewa bruto
PPh Final — Pengalihan Tanah/Bangunan
PPh Final atas pengalihan hak tanah/bangunan (umum 2,5%; rumah/rusun sederhana 1%).
PPh = Tarif × Nilai pengalihan
PPh Final — Jasa Konstruksi
PP 9/2022: PPh Final × DPP jasa (1,75%–6%) + PPN; opsi potong pemotong atau setor sendiri.
DPP=nilai sebelum PPN · PPh=tarif SBU×DPP · Netto= (DPP+PPN) − PPh (jika dipotong)
PPh Final UMKM (0,5%)
PP 20/2026: 0,5% jika berhak & omzet ≤4,8M; OP bebas Rp500jt; badan baru & pekerjaan bebas tidak berhak.
DPP=max(0, omzet konsolidasi − bebas OP) · PPh=0,5%×DPP (jika ≤4,8M & berhak)
PPh Badan
Dari laba-rugi ke PKP, lalu tarif Pasal 17(1) 22%, Pasal 17(2b) go public 19%, atau Pasal 31E menurut omzet.
PKP = round↓ ribuan ((A−B−C+G−H)+I−J) · 22% / 19% / Pasal 31E
Penyusutan Aset (Fiskal & Komersial)
Jadwal penyusutan Pasal 11 / PMK-72: garis lurus, saldo menurun, SYD (komersial), UOP.
Fiskal: GL atau SM per kelompok · Komersial: SL/DDB/SYD/UOP · Bangunan hanya GL
Threshold TP Doc (PMK-213)
Skrining kewajiban Master File, Local File, dan CbCR menurut PMK-213/PMK.03/2016.
MF/LF jika omzet t-1>50M ATAU barang>20M ATAU jasa/bunga/royalti>5M ATAU afiliasi tax haven · CbCR UPE≥11T

Pajak Pusat — PPN & PPnBM
Pajak konsumsi tidak langsung atas BKP/JKP dan barang mewah.
Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
UU PPN/HPP & PMK 131/2024: umum efektif 11% (DPP nilai lain), BKP mewah 12%, ekspor 0%, KMS 2,4%, atau besaran tertentu.
Umum: 12%×(11/12×harga) · Mewah: DPP×12% · Ekspor: Rp0 · KMS: 2,4%×biaya · Khusus: % PMK×dasar
Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM)
Rumus sesuai regulasi (tarif × DPP). Pengguna wajib memilih tarif PMK yang tepat untuk golongan barangnya.
PPnBM = Tarif PMK × DPP (harga jual/nilai impor) — tidak dikreditkan; cek golongan PMK

Pajak Pusat — Lainnya
PBB-P5L (perkebunan, perhutanan, migas, panas bumi, minerba, lainnya), Bea Meterai, dan Pajak Karbon.
PBB-P5L — Semua Sektor Pusat
Hub PBB pusat: pilih sektor perkebunan, perhutanan, migas, panas bumi, minerba, atau lainnya.
NJKP = 40% × (NJOP − NJOPTKP); PBB = 0,5% × NJKP ≈ 0,2% × NJOP bersih
PBB Sektor Perkebunan
PBB pusat kawasan perkebunan (IUP/HGU): areal + bangunan. NJKP 40% × 0,5%.
(NJOP − NJOPTKP) × 40% × 0,5%
PBB Sektor Perhutanan
PBB pusat kawasan hutan (IUPHHK-HA/HTI/RE, dll.). NJKP 40% × 0,5%.
(NJOP − NJOPTKP) × 40% × 0,5%
PBB Sektor Pertambangan Migas
PBB pusat kawasan minyak & gas: permukaan, tubuh bumi, dan fasilitas. NJKP 40% × 0,5%.
(NJOP bumi+tubuh+bangunan − NJOPTKP) × 40% × 0,5%
PBB Sektor Pertambangan Panas Bumi
PBB pusat kawasan pengusahaan panas bumi. NJKP 40% × 0,5%.
(NJOP − NJOPTKP) × 40% × 0,5%
PBB Sektor Pertambangan Minerba
PBB pusat kawasan mineral & batubara: permukaan, tubuh bumi, fasilitas. NJKP 40% × 0,5%.
(NJOP bumi+tubuh+bangunan − NJOPTKP) × 40% × 0,5%
PBB Sektor Lainnya
PBB pusat objek perairan/yurisdiksi: perikanan, pipa, kabel, FSO/FPSO, dll.
(NJOP − NJOPTKP) × 40% × 0,5%
Bea Meterai
Tarif tunggal Rp10.000 untuk dokumen bernilai di atas Rp5.000.000 (UU Bea Meterai).
Jika nilai dokumen > Rp5.000.000 → Bea = Rp10.000
Pajak Karbon
Pajak atas emisi CO2e di atas cap (minimum Rp30/kg CO2e) — skema Cap and Tax.
Pajak = max(0, Emisi − Cap) × Tarif per kg

Kepabeanan & Cukai (DJBC)
Bea masuk/keluar dan cukai atas barang berisiko sosial.
Bea Masuk & PDRI
Impor: CIF×kurs → bea masuk, lalu PPN impor & PPh 22 atas (nilai pabean + BM).
CIF=C+I+F · Pabean=CIF×kurs · BM=%×pabean · PPN/PPh22=%×(pabean+BM)
Bea Keluar
Ekspor komoditas: ad valorem (% × HPE × kurs) atau spesifik (USD/Rp per satuan).
Ad valorem: %×qty×HPE×kurs · Spesifik: qty×tarif×kurs (USD) / qty×tarif (Rp)
Cukai
Cukai BKC (tembakau, MAPP, EA, dll.) spesifik/ad valorem + opsi pajak rokok 10%.
Spesifik: qty×tarif · Ad valorem: qty×HJE×% · Pajak rokok: 10%×cukai

Pajak Daerah — Provinsi (UU HKPD)
PKB, BBNKB, PAB, PBBKB, PAP, Pajak Rokok, dan Opsen MBLB.
Pajak Kendaraan Bermotor (PKB)
PKB seluruh 38 provinsi: tarif wilayah + opsen kab/kota, SWDKLLJ, PNBP 5-tahunan, dan denda.
NKB=NJKB×bobot · PKB=NKB×tarif wilayah · Opsen≈66%×PKB · +SWDKLLJ/PNBP/denda
Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB)
Balik nama per provinsi: BBNKB I/II + opsen + PKB wilayah + SWDKLLJ + PNBP.
BBNKB=NKB×tarif wilayah (+opsen 66%) + PKB wilayah (+opsen) + SWDKLLJ + PNBP
Pajak Alat Berat (PAB)
Pajak alat berat per provinsi — tarif Perda maks 0,2% (UU HKPD).
PAB = Tarif wilayah × Nilai alat berat (maks 0,2%)
Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB)
Pajak BBM tingkat provinsi — tarif mengikuti Perda/preset wilayah.
PBBKB = Tarif wilayah × Nilai beli BBM
Pajak Air Permukaan (PAP)
Pajak air permukaan — NPA × tarif Pergub/preset provinsi.
PAP = Tarif wilayah × Nilai perolehan air
Pajak Rokok (Daerah)
Piggyback 10% × cukai (seragam UU HKPD); wilayah untuk konteks bagi hasil.
Pajak rokok = 10% × Cukai tembakau terutang
Opsen Pajak MBLB (Provinsi)
Opsen provinsi 25% × pokok MBLB kab/kota (Pasal 4 ayat 1 huruf g UU HKPD).
Opsen MBLB = 25% × Pokok MBLB kab/kota

Pajak Daerah — Kabupaten/Kota (UU HKPD)
PBB-P2, BPHTB, PBJT (5 objek), reklame, PAT, MBLB, walet, serta opsen PKB/BBNKB (dihitung di PKB/BBNKB).
Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT)
Lima objek UU HKPD: makanan/minuman, listrik, hotel, parkir, kesenian-hiburan (+ hiburan khusus).
PBJT = Tarif objek × Nilai transaksi (preset kab/kota)
PBB Perdesaan & Perkotaan (PBB-P2)
PBB daerah (kab/kota) atas bumi/bangunan non-P5L. UU HKPD: (NJOP − NJOPTKP) × tarif Perda maks 0,5% — tanpa NJKP.
NJOP=luas×NJOP/m² · DPP=NJOP−NJOPTKP wilayah · PBB=DPP×tarif preset (−diskon +denda)
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)
NPOP=max(transaksi,NJOP); NPOPTKP & tarif mengikuti preset kab/kota (batas UU 80jt/300jt, maks 5%).
NPOP=max(akta,NJOP) · DPP=NPOP−NPOPTKP wilayah · BPHTB=DPP×tarif preset
Pajak Reklame
NSR & tarif pajak reklame dari preset wilayah (maks 25%).
NSR=luas×hari×NSR wilayah×(1+faktor) · Pajak=NSR×tarif preset
Pajak Air Tanah (PAT)
HDA & tarif PAT dari preset wilayah; HAB=HDA×FPA×FPAg (maks tarif 20%).
HAB=HDA wilayah×FPA×FPAg · NIPA=m³×HAB · PAT=NIPA×tarif
Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan (MBLB)
DPP=volume×harga; tarif preset (maks 20%) + opsen MBLB 25% × pokok.
MBLB=DPP×tarif wilayah · Opsen=25%×pokok
Pajak Sarang Burung Walet
DPP=Kg×harga; tarif preset wilayah (maks 10% UU HKPD).
DPP=Kg×harga · Pajak=DPP×tarif preset

Sanksi & Kepatuhan (UU KUP / HPP)
Bunga dinamis, denda SPT, dan surcharge kenaikan.
Sanksi Bunga Administrasi (Dinamis)
Pusat: (KMK+uplift)/12 × bulan × pokok; daerah: 1%/bulan (maks 24).
Pusat: ((KMK+uplift)/12)×bulan×pokok · Daerah: 1%×bulan×pokok
Denda Keterlambatan SPT
Denda Pasal 7 (fixed) + opsi bunga Pasal 9(2a) jika ada kurang bayar.
Denda fixed per SPT + (opsional) bunga = KB × bulan × (KMK/12)
Sanksi Kenaikan (Surcharge)
Kenaikan UU HPP: 75% potput/PPN, 50% ex-officio, 100% bukper/SKPKBT/44B.
Surcharge = % kenaikan × Pokok kurang bayar