PajakOnline.com—Pemerintah berupaya mengembangkan ekosistem investasi dan kegiatan berusaha untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan daya saing di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB). Di antara upaya itu, dengan memberikan fasilitas Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM). Agar fasilitas pajak tersebut tepat sasaran, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) melakukan verifikasi dokumen persyaratan yang ada, kemudian akan mengeluarkan endorsement. Apa yang dimaksud dengan endorsement DJP ini?
Endorsement di sini bukan seperti mempromosikan produk seperti yang dilakukan para selebgram atau artis dan publik figur. Dalam perpajakan, pengertian endorsement tercantum dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 2021 atau Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 173/PMK.03/2021.
Dalam Pasal 1 angka 24 PP 41 Tahun 2021 pengertian endorsement adalah pernyataan mengetahui dari pejabat/pegawai DJP atas pemasukan Barang Kena Pajak (BKP) dari tempat lain dalam Daerah Pabean ke Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB), berdasarkan penelitian formal atas dokumen yang terkait dengan pemasukan BKP tersebut.
Endorsement dapat dilakukan secara elektronik atau pun secara manual. Endorsement melalui elektronik dilakukan apabila DJP telah memiliki data elektronik yang diperlukan untuk meyakini bahwa BKP berwujud benar-benar telah masuk di kawasan bebas. Namun, apabila DJP belum memiliki data elektronik yang diperlukan, endorsement dapat dilakukan secara manual.
Untuk mengatur lebih jauh tentang pemberian endorsement, DJP pun baru saja menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor -23/PJ/2022 yang memberikan petunjuk atas pelaksanaan PMK No. 173/2021 yang telah diterbitkan Kemenkeu tahun lalu. Adapun SE-23/PJ/2022 yang baru ini memberikan pedoman pelaksanaan pemberian dan pembatalan endorsement, yaitu pernyataan mengetahui dari pejabat DJP atas pemasukan BKP dari tempat lain dalam daerah pabean (TLDDP) ke KPBPB.
Endorsement ini fungsinya untuk memastikan bahwa BKP berwujud benar-benar telah masuk ke KPBPB berdasarkan penelitian formal atas dokumen yang terkait dengan pemasukan BKP berwujud tersebut. Dalam SE-23/PJ/2022 dijelaskan, endorsement diperlukan agar penyerahan BKP berwujud dari pengusaha di TLDDP kepada pengusaha di KPBPB bisa mendapatkan fasilitas PPN/PPnBM tidak dipungut sesuai dengan PMK 173/2021.
