PajakOnline.com— Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi DKI Jakarta mensosialisasikan Kebijakan Pelaporan Data Transaksi Usaha Wajib Pajak secara Elektronik (e-Lapor Pajak) yang maksudnya adalah kebijakan dalam pemungutan dan pelayanan pajak daerah yang disesuaikan mengikuti perkembangan informasi, komunikas, teknologi, dan inovasi yang semakin maju kompetitif, dan terintegrasi.
Kepala Pusat Data dan Informasi
Pajak Daerah, M Aris Firmasyah mengatakatan pelaporan data transaksi usaha yang
dilakukan oleh wajib pajak melalui online system dapat meningkatkan pengawasan,
transparansi serta efisiensi pemungutan pajak dan pelayanan kepada wajib pajak.
“Adanya keterlibatan dan peran
serta masyarakat dalam proses pengawasan pemungutan pajak, sehingga tercipta
suatu basis data perpajakan yang transparan dan akuntabel,” ujar M. Aris
seperti dilansir bprd.jakarta.go.id
Untuk itu diterbitkanlah
Peraturan Gubernur Nomor 98 Tahun 2019 tentang Pelaporan Data Transaksi Usaha
Wajib Pajak Secara Elektronik,” ujarnya di Ruang Bapenda Jakarta di Gedung
Dinas Teknis Abdul Muis Lt. 16 Jakarta Pusat.
Peraturan Gubernur ini mulai
berlaku tanggal 26 September 2019 dengan kebijakan seperti :
Wajib pajak yang memiliki
transaksi usaha hotel, restoran, parkir, dan hiburan termasuk hiburan
insidentil, wajib melaporkan seluruh data transaksi usahanya yang merupakan
objek pajak daerah secara elektronik.
Wajib pajak yang tidak tidak
melaporkan data transaksi usahanya secara online dikenakan law enforcement di
bidang perpajakan berupa :
a. dilakukan pemeriksaan dengan
melakukan penghitungan pajak secara jabatan;
b. dalam hal terdapat bukti
permulaan yang cukup, terhadap Wajib Pajak dilakukan proses pidana sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Pajak Daerah; dan
c. tidak dapat dipertimbangkan
masuk dalam daftar Wajib Pajak yang dapat melayani pemberian pembebasan Pajak
Hotel dan Pajak Restoran kepada Perwakilan Negara Asing dan Pejabat Perwakilan
Negara Asing.
Selain tindakan law enforcement
di bidang perpajakan, wajib pajak yang tidak tidak melaporkan data transaksi
usahanya secara online dikenakan sanksi administrasi di bidang perizinan usaha
berupa pencabutan sementara izin usaha atau pencabutan tetap izin usaha oleh
Kepala DPMPTSP berdasarkan surat rekomendasi dari :
a. Kepala Dinas Pariwisata dan
Kebudayaan untuk Wajib Pajak yang menyelenggarakan usaha hotel, restoran dan
hiburan;
b. Kepala Dinas Perumahan dan
Kawasan Permukiman untuk Wajib Pajak yang menyelenggarakan usaha rumah kos; dan
c. Kepala Unit Pengelola
Perparkiran untuk Wajib Pajak yang menyelenggarakan usaha parkir di luar ruang
milik jalan.
Proses pelaporannya yaitu
perangkat pelaporan data transaksi usaha elektronik ini merekam setiap data transaksi
usaha wajib pajak secara online untuk selanjutnya dikirim kepada sistem
informasi pajak daerah BPRD sebagai laporan data transaksi usaha wajib pajak
dalam waktu paling lambat 1 (satu) hari sejak tanggal transaksi.
Total target objek pajak yang akan dipasang perangkat pelaporan data transaksi usaha secara elektonik ini berjumlah + 6.500 objek. Saat ini, bank yang telah bekerja sama dalam pemasangan perangkat pelaporan data transaksi usaha elektronik ini yaitu : Bank DKI, Bank BRI, dan Bank BNI. Sebagai bentuk penghargaan kepada masyarakat atau wajib pajak yang telah melaporkan data transaksi usahanya secara elektronik diberikan apresiasi berupa pemublikasian sebagai Wajib Pajak yang telah melaporkan data transaksi usahanya secara elektronik melalui media publik milik pemerintah daerah.
#PajakOnline #BanggaBayarPajak
Anda gak mau ribet urusan pajak, silakan daftar menjadi member dan berkonsultasi melalui layanan Konsultan Pajak Online. Kontak kami via e-mail : konsultasi@pajakonline.com cs : hp/wa 08111-44-0177