TRENDING
DJP Terus Kejar Pajak Orang KayaPemajakan Marketplace Dimajukan Jadi 1 Oktober, Begini Alasan DJPHari Ini Sertijab Kapolri Baru dan Pelepasan Listyo SigitKPK Periksa Pegawai Adaro dan Dua Pegawai Pajak, Uang Lebih dari Rp1 Miliar DisitaPMI Manufaktur Indonesia Kembali Ekspansif, Tembus 52,4Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, Pasar Dibayangi Tekanan GlobalEnam Pihak Ditunjuk Pungut PPN dalam Transaksi Digital Luar NegeriPendaftaran USKP Periode III 2026 Dibuka, Jadi Ujian Mengulang Terakhir Masa TransisiTarif Bunga Sanksi Pajak Oktober 2026 Turun, Ini RinciannyaPemungutan PPh Pasal 22 Marketplace Mulai Dilaksanakan 1 Oktober 2026Pemerintah Mulai Terapkan SPP-TDLNPrabowo Rombak Kabinet Merah Putih, 18 Pejabat Dilantik: Suyudi Jadi Kapolri, Listyo Sigit Pimpin KSPDPR Setujui Suyudi Ario Seto Jadi Calon Kapolri, Gantikan Listyo SigitPemerintah Hitung Penyesuaian PTKP, Besaran Baru Belum DiputuskanPajak Marketplace Tak Jadi Dipungut Hari Ini, DJP Tetapkan Mulai 1 November 2026Coretax Resmi Tinggalkan Skema Delta, Mulai Hari Ini Pembetulan SPT Gunakan Mekanisme ReplaceDJP Terus Kejar Pajak Orang KayaPemajakan Marketplace Dimajukan Jadi 1 Oktober, Begini Alasan DJPHari Ini Sertijab Kapolri Baru dan Pelepasan Listyo SigitKPK Periksa Pegawai Adaro dan Dua Pegawai Pajak, Uang Lebih dari Rp1 Miliar DisitaPMI Manufaktur Indonesia Kembali Ekspansif, Tembus 52,4Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, Pasar Dibayangi Tekanan GlobalEnam Pihak Ditunjuk Pungut PPN dalam Transaksi Digital Luar NegeriPendaftaran USKP Periode III 2026 Dibuka, Jadi Ujian Mengulang Terakhir Masa TransisiTarif Bunga Sanksi Pajak Oktober 2026 Turun, Ini RinciannyaPemungutan PPh Pasal 22 Marketplace Mulai Dilaksanakan 1 Oktober 2026Pemerintah Mulai Terapkan SPP-TDLNPrabowo Rombak Kabinet Merah Putih, 18 Pejabat Dilantik: Suyudi Jadi Kapolri, Listyo Sigit Pimpin KSPDPR Setujui Suyudi Ario Seto Jadi Calon Kapolri, Gantikan Listyo SigitPemerintah Hitung Penyesuaian PTKP, Besaran Baru Belum DiputuskanPajak Marketplace Tak Jadi Dipungut Hari Ini, DJP Tetapkan Mulai 1 November 2026Coretax Resmi Tinggalkan Skema Delta, Mulai Hari Ini Pembetulan SPT Gunakan Mekanisme Replace
PajakOnline
BerandaBerita Pajak
Kalkulator PajakHubungi KamiKebijakan Privasi
← Semua beritaBerita

Pengusaha Prediksi Indonesia Alami Resesi

Redaksi PajakOnline · 5 Agu 2020, 12.00 WIB · pajakonline.com

PajakOnline.com—Himpunan pengusaha memperkirakan Indonesia akan mengalami resesi di kuartal III 2020. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II-2020 pada hari ini Rabu (5/8/2020). Banyak yang memprediksi ekonomi nasional akan minus, salah satunya pengusaha yang memprediksi -3 persen hingga -5 persen.

“Kita lihat bahwa krisis ekonomi ini sesuatu yang tidak bisa kita hindari, tidak jauh apa yang diprediksi oleh Pemerintah antara -3 persen sampai -5 persen. Memang teman-teman pengusaha ada yang memprediksi akan di atas itu,” kata Ketua Umum DPD HIPPI (Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia) Provinsi DKI Jakarta Sarman Simanjorang.

Hal itu disebabkan daya beli masyarakat sangat turun akibat dari PHK, dan yang dirumahkan, serta banyaknya UKM yang terpaksa harus menutup usahanya. Kendati sudah pelonggaran PSBB, kata Sarman, geliat ekonomi masih belum sesuai dengan yang diharapkan, ditambah dampak krisis ekonomi dunia.

Sebuah negara disebut resesi apabila dalam dua kuartal berturut-turut mengalami minus. Meskipun Indonesia pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2020 masih positif 2,97 persen, namun kuartal II dipastikan minus, begitupun kuartal III.

“Ini warning kalau resesi sudah di depan mata, di kuartal ketiga ini sudah agak terbuka kemungkinan sesuatu yang tidak bisa hindari yaitu resesi, hanya bagaimana kita berharap kepada pemerintah untuk menjaga atau mengendalikan supaya kita tidak terlalu dalam seperti Singapura -41 persen dan Amerika Serikat -35 persen,” katanya.

Sarman berharap, walaupun minus di kuartal II dan kuartal III juga diprediksikan minus, jangan sampai mencapai dua digit minusnya, seperti Singapura dan Amerika Serikat, dan negara lainnya.

Jika dilihat sampai saat ini gejala ekonomi Indonesia masih berada di posisi ketidakpastian, apalagi dengan daya beli masyarakat yang sangat menurun. Hal ini dibuktikan dengan pusat-pusat perbelanjaan masih relatif sepi, dan masih banyak hotel-hotel di Jakarta bintang 4 dan 5 masih tutup.

“Mereka tidak berani operasional karena kalau tingkat penghuninya hanya 20 persen, mereka masih merugi. Ini kan indikator-indikator yang kita lihat masih sangat-sangat minim, jadi pergerakan ekonomi kita memang itu dipicu oleh berbagai sektor akibat Covid-19,” katanya.