PajakOnline.com—Dalam perpajakan, tentunya pernah mendengar istilah lebih bayar. Lebih bayar ini terjadi karena adanya kelebihan pembayaran pajak yang dapat disebabkan oleh alasan-alasan tertentu, misalnya karena total pemotongan/pemungutan oleh pemotong/pemungut terhadap Wajib Pajak yang jumlahnya lebih besar daripada pajak terutang tahunan dalam hal PPh ataupun lebih besar daripada pajak masukan dalam hal PPN.
Untuk itu, atas kelebihan pembayaran tersebut, petugas pajak akan menerbitkan sebuah dokumen bernama Surat Perintah Membayar Kelebihan Pajak (SPMKP), yaitu Surat Perintah dari Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) kepada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) untuk menerbitkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) sebagai dasar kompensasi utang pajak atau pajak yang akan terutang, dan dasar pembayaran kembali kelebihan pembayaran pajak kepada Wajib Pajak.
Sementara untuk mendapatkan pengembalian kelebihan pembayaran baik PPh, PPN, maupun PPnBM, maka perlu ada hal – hal yang mendasarinya. Dalam Pasal 2 Peraturan Menteri Keuangan nomor 244 tahun 2015, hal – hal yang mendasari dapat dikembalikannya kelebihan pembayaran pajak diantaranya adalah:
- Pajak lebih bayar yang tercantum dalam Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) yang diterbitkan akibat jumlah kredit pajak atau jumlah pajak dibayarkan lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang (Pasal 17 ayat 1 UU KUP), akibat adanya pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang (Pasal 17 ayat 2 UU KUP), dan yang terbit berdasar pemeriksaan atas permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak/restitusi (Pasal 17B UU KUP).
- Pajak lebih bayar yang tercantum dalam Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak (SKPPKP) untuk Wajib Pajak dengan kriteria tertentu (Pasal 17C UU KUP), Wajib Pajak yang memenuhi persyaratan tertentu (Pasal 17D UU KUP), dan Pengusaha Kena Pajak berisiko rendah (Pasal 9 ayat 4c UU PPN).
- Pajak lebih bayar yang terjadi karena diterbitkannya Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, dan Putusan Peninjauan Kembali oleh Mahkamah Agung.
- Pajak lebih bayar yang terjadi karena diterbitkannya Surat Keputusan Pembetulan (Pasal 16 UU KUP), Surat Keputusan Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi (Pasal 36 ayat 1 huruf a UU KUP), Surat Keputusan Pengurangan atau Pembatalan Surat Ketetapan Pajak/SKP (Pasal 36 ayat 1 huruf b UU KUP), dan Surat keputusan Pengurangan atau Pembatalan Surat Tagihan Pajak/STP (Pasal 36 ayat 1 huruf c UU KUP), dan lain – lain.
