PajakOnline.com—Pengamat Ekonomi dari Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan mencermati resesi ekonomi yang terjadi di Indonesia sudah berjalan satu tahun.
"Pertumbuhan ekonomi Q1/2021 minus 0,74 persen, year-on-year (YoY). Artinya, dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun lalu, atau Q1/2020, minus 0,74 persen," kata Anthony. Ekonomi triwulanan defisit selama empat triwulan berturut-turut sejak Q2/2020.
Baca Juga: Indonesia Masih Resesi, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Q1-2021 Minus 0,74%
Ada yang berpendapat, ekonomi Indonesia mulai membaik. Mulai menuju normal. Karena kontraksi atau minusnya mengecil. Namun menurut Anthony, pendapat ini bisa menyesatkan.
[caption id="attachment_4830" align="alignnone" width="399"]
Prof. Dr. Anthony Budiawan. Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)[/caption]
Anthony menjelaskan kenapa bisa menyesatkan.
Menurutnya, kontraksi pertumbuhan setahun ini memang mengecil. Pertumbuhan Q2/2020 tercatat minus 5,32 persen. Kemudian turun menjadi 3,49 persen (Q3/2020), 2,18 persen (Q4/2020) dan 0,74 persen pada Q1/2021.

Secara year-on-year, pertumbuhan ekonomi memang kelihatannya membaik. Tetapi, sejauh mana membaiknya? Apakah pertumbuhan 2021 akan mencapai target 5 persen?
"Pertumbuhan ekonomi secara year-on-year berguna untuk mencatat kinerja ekonomi tahunan. Tetapi untuk melihat progress atau perkembangan ekonomi beberapa bulan terakhir ini dan perkiraan ke depan dalam jangka pendek, yang diperlukan adalah perkembangan ekonomi dari satu triwulan ke triwulan selanjutnya. Dengan kata lain quarter-on-quarter, atau QoQ," kata Anthony, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS).
Secara triwulanan, ekonomi Indonesia sudah melemah sejak Q4/2020. Ekonomi atau PDB turun dari Rp2.720,6 triliun pada Q3/2020 menjadi Rp.2.709,4 triliun pada Q4/2020. Dan kemudian turun lagi menjadi Rp.2.683,1 triliun pada Q1/2021.


