PajakOnline.com—Optimisme perlu ditumbuhkan dalam menghadapi pandemi ini. Hari-hari terindah, cuaca tercerah itu kita dapatkan setelah badai berlalu. Para pengusaha Indonesia, enterpreneur-enterpreneur harus mencermati dan dengan jeli melihat peluang-peluang yang ada dan akan hadir.
"Kita harus beradaptasi dengan new normal. Bukan berdamai dengan Corona. Tapi, kita berdamai dengan realita baru. Karena Allah SWT tidak akan menguji kaumnya di luar batas kemampuannya. Percayalah, bahwa di balik setiap kesulitan ada kemudahan-kemudahan. Ini ujian untuk kita naik derajat," kata Sandiaga Uno, pendiri group Saratoga yang juga Ketua Umum Relawan Indonesia Bersatu Lawan Covid-19 dalam acara Webinar Nasional bertema Insentif Pajak Dapatkah Menjadi Solusi Pengusaha Saat Krisis di Jakarta, Rabu (20/5/2020).
Webinar Nasional yang membahas mengenai insentif pajak ini hasil kolaborasi PajakOnline.com bekerja sama Bank Infaq serta Mitra Sakti Sinergi, dan para mitra Bank Infaq yakni Bank Syariah Harta Insan Karimah, dan Gerakan Masyarakat Wirausaha (Gemawira).
Sebagai narasumber, Sandiaga Uno, Hestu Yoga Saksama, Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan dan Abdul Koni, Managing Partners PajakOnline Consulting Group, dengan moderator Laja Lapian, Dewan Pembina Bank Infaq.
Turut menghangatkan ruang dialog dalam acara Webinar Nasional ini, Agung Suryamal, Mantan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Barat, Sarman Simanjorang, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DKI Jakarta, Diantri Lapian, Ketua Umum Gerakan Masyarakat Wirausaha (Gemawira) dan King Bagus, Ketua Ekonomi Kreatif Himpunan Artis Pengusaha Seluruh Indonesia (HAPSI).
Sandiaga Uno mengatakan, kejadian ini adalah perfect storm, badai yang datang secara bersamaan. Ada dua black swan event. Kejadian munculnya 2 angsa hitam di antara sekumpulan angsa putih secara tiba-tiba, yakni wabah corona dan perang dagang migas antara Rusia dan Saudi Arabia.
"Dampaknya pada penerimaan negara cukup dahsyat, pendapatan pajak dan migas terjun bebas. Ini keadaan yang sangat berat, dan bikin mumet semuanya," kata Sandi. Dia bercerita, sebagai pengusaha pernah mengalami beberapa kali krisis. Dan krisis akibat pandemi ini adalah yang terberat.
Dalam krisis ekonomi tahun-tahun sebelumnya, para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dapat tampil menjadi penyelamat perekonomian nasional, namun sekarang ketangguhan UMKM ini rontok sama sekali. UMKM bahkan menjadi sektor yang paling terdampak pandemi Covid-19.

"Sudah banyak pengusaha yang mantab (makan tabungan) dan jual aset untuk bisa survive saat pandemi. Mencoba bertahan untuk tidak melakukan PHK kepada karyawannya," kata Sandi.
Sandi mengarisbawahi untuk menangani pandemi ini yang pertama dilakukan adalah mengatasi lebih dulu krisis kesehatan. Setelah itu krisis ekonomi. Dari sisi perekonomian, di benak masyarakat hanya ada 2, yakni harga-harga bahan pokok yang merangkak naik, dan makin sulitnya lapangan pekerjaan karena semakin maraknya PHK. Dari data Kadin sudah 6 juta pengangguran korban PHK, bahkan diproyeksikan bisa mencapai angka 15 juta orang yang di-PHK.
"Ini harus kita cegah bersama dan antisipasi, di satu sisi pengeluaran, sisi lainnya penerimaan. Dari sektor usahanya kita fokus membantu UMKM yang terpuruk karena pandemi ini. Karena UMKM berkontribusi 97% menyerap tenaga kerja, dan 60% pada penerimaan Produk Domestik Bruto (PDB)," kata Sandi.
Menurut Sandi, dalam keadaan sekarang ini, kebijakan pemerintah, dalam policy response itu sebisa mungkin mengutamakan dana yang bisa kita transfer langsung ke kantong-kantong masyarakat.

