Jakarta, PajakOnline — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menargetkan investasi industri strategis senilai USD20 miliar hingga USD30 miliar atau sekitar Rp361,4 triliun hingga Rp542,1 triliun dalam dua sampai tiga tahun ke depan. Target ini diarahkan untuk mempercepat transformasi industri Indonesia, mulai dari pengolahan mineral hingga pengembangan semikonduktor, energi, dan infrastruktur digital.
Chief Technology Officer (CTO) Danantara Indonesia, Sigit Puji Santosa, menyampaikan target tersebut dalam forum Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Menurut Sigit, Danantara telah menyiapkan lebih dari 40 proyek industri strategis dalam kerangka pengembangan lima tahun. Sejumlah proyek masih menjalani studi kelayakan atau feasibility study (FS), sementara proyek yang memenuhi persyaratan dapat berlanjut ke tahap perancangan teknik awal atau front-end engineering design (FEED).
“Kalau kita bisa mencapai 20–30 miliar dolar AS dalam waktu dua hingga tiga tahun ke depan, itu akan sangat bagus. Tapi kami ingin lebih dari itu,” ujar Sigit dalam keterangannya dikutip Kamis (29/10/2026).
Target tersebut menunjukkan ambisi Danantara untuk tidak hanya mengelola investasi, tetapi juga mendorong terbentuknya industri bernilai tambah tinggi yang dapat memperkuat struktur ekonomi nasional.
Enam Klaster Industri Menjadi Fokus
Danantara menyiapkan portofolio proyek yang mencakup enam kelompok industri, yaitu energi; pangan dan teknologi kesehatan; infrastruktur, mobilitas, dan telekomunikasi; pertahanan, maritim, dan dirgantara; material maju; serta industri lain seperti elektronika, permesinan, teknologi finansial, dan semikonduktor.
Dari berbagai sektor tersebut, mineral, material maju, dan semikonduktor menjadi prioritas karena dinilai memiliki potensi untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi dan memperkuat kemampuan teknologi nasional.
Dalam industri mineral, misalnya, pemerintah ingin mendorong pengembangan kegiatan ekonomi melampaui penambangan dan ekspor bahan mentah. Pengolahan diharapkan berkembang hingga menghasilkan komponen, subsistem, dan produk akhir yang dapat digunakan oleh industri manufaktur.
Strategi tersebut berpotensi memperluas rantai pasok domestik sekaligus membuka peluang bagi perusahaan lokal untuk masuk ke sektor industri yang membutuhkan teknologi dan keterampilan lebih tinggi.
Energi dan Infrastruktur Digital Jadi Andalan
Pada sektor energi, portofolio Danantara mencakup dukungan terhadap program tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt (GW), pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir, pengolahan batu bara menjadi dimetil eter (DME), pembangunan kilang minyak, serta penguatan rantai pasok baterai kendaraan listrik.
Di sektor digital, rencana pengembangan mencakup kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), komputasi awan berdaulat (sovereign cloud), pusat data berkapasitas daya 1 GW, dan teknologi blockchain.
Rencana tersebut masih perlu diterjemahkan menjadi proyek yang memiliki pendanaan, teknologi, jadwal pembangunan, dan model bisnis yang jelas. Kapasitas yang diumumkan dalam rencana pengembangan tidak dapat langsung dianggap sebagai kapasitas yang telah dibangun atau beroperasi.
Pengembangan semikonduktor juga menjadi perhatian karena Indonesia membutuhkan kemampuan yang lebih kuat dalam penguasaan desain, komponen, dan teknologi untuk mendukung industri elektronik, pusat data, serta kendaraan listrik.
Ketergantungan Impor Bahan Baku Farmasi Jadi Peluang
