PajakOnline.com—Media sosial belakangan ini ramai postingan warganet yang mengeluhkan ekonomi yang lesu. Mal-mal terlihat sepi pengunjung dan ojek-ojek online, baik ojol yang berjaket hijau dan kuning banyak yang nyender.
Mereka merasa akhir-akhir ini orderan makin sepi. Termasuk pelaku usaha yang menyewa ruko, berjualan kuliner atau produk fashion pakaian mengaku sepi pembeli. Timeline postingan keluhan terhadap kondisi ekonomi yang terasa sulit tersebut berseliweran di TikTok, Facebook, dan cuitan netizen di Twitter.
"Lihat tuh banyak yang nyender (duduk-duduk menunggu calon penumpang). Penghasilan turun jauh gak kayak dulu. Ini makin sepi order," kata salah seorang ojek online yang kami temui di kawasan Mal Plaza Senayan yang berseberangan dengan Mal Senayan City, Jakarta.
Ekonom Senior dari Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan mengungkapkan, issue Indonesia akan dilanda badai resesi ekonomi pada 2023 ini bukan kaleng-kaleng. Perekonomian Indonesia sedang tidak baik-baik saja.
Anthony menilai, badai resesi ekonomi pada tahun 2023 ini sulit dihindari Indonesia sebab hampir seluruh negara maju, termasuk Amerika, Eropa dan negara berkembang di dunia juga menghadapi situasi serupa. Ditambah lagi konflik geopolitik peperangan Rusia-Ukraina diprediksi akan eskalatif yang menyebabkan rawan pangan.
Badai resesi ekonomi itu, kata Anthony, akan sulit dihindari lantaran pada 2023 kondisi suku bunga Bank Dunia akan naik tinggi yang menyebabkan nilai mata uang merosot jauh.
[caption id="attachment_4830" align="alignright" width="399"]
Prof. Dr. Anthony Budiawan. Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)[/caption]
"Ya memang tidak bisa dihindari negara maju aja tidak bisa menghindari resesi, Indonesia juga tidak bisa, karena apa? Karena kenaikan suku bunga nanti akan naik tinggi dan kita di sini akan tertekan kurs rupiah, kurs rupiah akan melemah terus. Inflasi akan meningkat dari pelemahan rupiah," kata Anthony, Senin (19/6/2023).
Anthony Budiawan menegaskan, resesi ekonomi sulit dihindari karena suku bunga global tetap tinggi sehingga membuat harga komoditas turun, dan menekan APBN. "Harga komoditas turun tajam pada 2023 ini," kata Anthony.
