PajakOnline.com—Sejumlah pengusaha menyampaikan protes atas kenaikan pajak hiburan yang dinilai memberatkan dan membuat bisnis mereka berpotensi gulung tikar atau tutup. Akibatnya akan terjadi PHK besar-besaran yang menambah jumlah pengangguran dan membuat perekonomian nasional suram.
Direktur Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kementerian Keuangan Lydia Kurniawati mengatakan, para pengusaha memiliki opsi untuk mengajukan insentif fiskal di tingkat daerah. Insentif tersebut bisa berupa pengurangan pajak.
“Jadi kalau saat ini memang belum mampu dengan tarif 40% silakan berdasarkan assesment daerahnya, melakukan pengurangan pokok pajaknya," kata Lydia dalam Media Briefing di Jakarta.
Pemerintah telah menetapkan tarif pajak sebesar 40% hingga 75% untuk beberapa jenis hiburan tertentu sesuai dengan ketentuan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (HKPD). Jenis-jenis hiburan yang terkena pajak ini mencakup diskotek, karaoke, kelab malam, bar, serta mandi uap/spa.
Keringanan ini diatur dalam Pasal 99 Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2023. Insentif fiskal akan diberikan atas permohonan pelaku usaha atau wajib pajak atau diberikan secara jabatan oleh Kepala Daerah.
Insentif akan diberikan berdasarkan beberapa pertimbangan, berikut ini;
1. Kemampuan membayar wajib pajak atau wajib retribusi.
