Jakarta, PajakOnline — Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu perhatian utama pasar keuangan pada awal pekan ini, Senin, 21 September 2026. Pelaku pasar mencermati perkembangan dolar AS, arah suku bunga global, kondisi harga minyak, serta keputusan Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22–23 September 2026.
Pada perdagangan Jumat, 18 September 2026, rupiah ditutup pada level sekitar Rp17.758 per dolar AS, melemah tipis 5 poin atau 0,03 persen dari perdagangan sebelumnya. Untuk perdagangan Senin, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif pada kisaran Rp17.700–Rp17.800 per dolar AS.
Data terakhir Kurs Transaksi Bank Indonesia yang tersedia per 18 September 2026 menunjukkan kurs USD berada pada Rp17.841,76 untuk kurs jual dan Rp17.664,24 untuk kurs beli. BI menjelaskan bahwa kurs transaksi tersebut menggunakan JISDOR sebagai titik tengah untuk USD/IDR.
Pasar Menunggu Keputusan BI
Perhatian terhadap rupiah semakin besar karena BI akan menggelar RDG pada 22–23 September 2026.
Pasar mencermati apakah BI akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan atau melakukan penyesuaian kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Keputusan BI akan menjadi salah satu katalis penting bagi pasar valuta asing dan pasar keuangan domestik dalam beberapa hari ke depan.
The Federal Reserve pada 16 September 2026 menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen. Perubahan kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi daya tarik aset berbasis dolar dan arus modal di negara-negara berkembang.
Kenaikan suku bunga AS juga menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan investor ketika menilai prospek mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Redaksi PajakOnline mengkutip dari Reuters, sentimen terhadap sejumlah mata uang negara berkembang masih menghadapi tekanan akibat meningkatnya imbal hasil US Treasury dan kenaikan harga minyak. Namun, dalam survei posisi pasar Reuters, sentimen terhadap rupiah justru membaik dibandingkan periode sebelumnya, meskipun rupiah masih mencatat depresiasi sekitar 6 persen sepanjang tahun berjalan.
Harga minyak dunia menjadi faktor lain yang diperhatikan pasar.
Indonesia sebagai negara yang masih membutuhkan impor minyak akan menghadapi tekanan eksternal apabila harga energi meningkat. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi dan pada akhirnya berpengaruh terhadap neraca perdagangan serta nilai tukar.
