Jakarta, PajakOnline — Tekanan biaya hidup, pendapatan yang sulit mengejar kenaikan pengeluaran, serta ketidakpastian pekerjaan mendorong sebagian masyarakat Indonesia menyesuaikan standar hidup.
Fenomena downgrade lifestyle atau penurunan gaya hidup semakin menjadi perhatian karena dapat mencerminkan terbatasnya kemampuan belanja rumah tangga, terutama kelompok kelas menengah.
Di tengah pertumbuhan ekonomi nasional yang masih positif, menyusutnya jumlah penduduk kelas menengah menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur ketahanan ekonomi masyarakat. Kelompok ini memiliki peran besar dalam konsumsi rumah tangga, yang merupakan salah satu penggerak utama perekonomian Indonesia.
Namun, penurunan jumlah kelas menengah tidak serta-merta membuktikan seluruh masyarakat mengalami pelemahan daya beli. Perubahan tersebut perlu dibaca bersama indikator konsumsi, pendapatan riil, inflasi, ketenagakerjaan, serta kondisi keuangan rumah tangga.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk kelas menengah Indonesia turun dari sekitar 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024.
Tren penurunan berlanjut pada 2025. Berdasarkan data yang dirangkum Next Indonesia Center dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS, jumlah kelas menengah tercatat sekitar 46,7 juta orang, dibandingkan 52,3 juta orang pada 2016.
Angka tersebut menunjukkan jumlah kelas menengah menyusut sekitar 5,6 juta orang dalam satu dekade terakhir. Perubahan ini perlu menjadi perhatian karena sebagian penduduk berpotensi berpindah ke kelompok ekonomi yang lebih rentan ketika menghadapi kehilangan pekerjaan, kenaikan cicilan, atau meningkatnya biaya kebutuhan pokok.
Kelas menengah juga tidak seluruhnya memiliki kondisi keuangan yang kuat. Sebagian rumah tangga masih harus mengalokasikan porsi besar pendapatannya untuk makanan, tempat tinggal, transportasi, pendidikan, dan kesehatan sehingga ruang untuk menabung maupun berinvestasi menjadi terbatas.
Indikator lain yang perlu dicermati adalah pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Berdasarkan data BPS, konsumsi rumah tangga pada kuartal II-2026 tumbuh 5,06% secara tahunan atau year-on-year (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan 5,52% pada kuartal I-2026.
Pada periode yang sama, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% yoy. Artinya, perekonomian nasional masih ekspansif, tetapi pertumbuhan konsumsi rumah tangga kehilangan sebagian momentumnya dibandingkan kuartal sebelumnya.
Perlambatan ini belum cukup untuk menyimpulkan konsumsi masyarakat secara keseluruhan mengalami kontraksi. Meski demikian, perkembangannya perlu diawasi karena konsumsi rumah tangga merupakan komponen penting dalam pembentukan produk domestik bruto (PDB).
Apabila rumah tangga semakin berhati-hati membelanjakan uangnya, dampaknya dapat menjalar ke sektor perdagangan eceran, pusat perbelanjaan, makanan dan minuman, fesyen, pariwisata, perhotelan, hingga industri manufaktur.
Penyesuaian gaya hidup menjadi salah satu tanda yang terlihat ketika rumah tangga berusaha mempertahankan keseimbangan keuangan.
Masyarakat dapat mengurangi frekuensi makan di restoran, membatasi pembelian kopi di gerai, memilih produk dengan harga lebih murah, menunda liburan, mengurangi belanja pakaian, hingga menekan pengeluaran untuk hiburan dan hobi.
Sebagian rumah tangga juga dapat menunda pembelian kendaraan atau barang tahan lama lainnya. Pengeluaran yang sebelumnya dianggap rutin kemudian dievaluasi kembali agar kebutuhan utama tetap terpenuhi.
